Fakta News
Ultimate magazine theme for WordPress.

Kegagalan Seorang Pemimpin

Oleh : Taufik Nurhuda, Ketua HPMIB Joga-Jateng

Faktanews.com – (Opini), pada dasarnya semua binatang adalah predator. Kadang menjadi pemain tunggal, seperti anjing misalnya. Kadang pula bersifat kolektif seperti semut. Adapun manusia, bisa dikategorikan sebagai ‘binatang’ dan ‘predator’ –bahkan lebih— jika mengabaikan atau menyalahgunakan fungsi akal untuk berpikir dan bertindak, yang menjadikannya sebagai makhluk paling sempurna dalam penciptaan.

Viralnya video rekaman Bupati Boalemo yang berpidato dengan berapi-api, menjadi polemik tersendiri hingga hari ini di Kabupaten Boalemo. Karena video ini dengan sekejap menjadi trending yang cukup hangat di kalangan politisi, akademisi, lebih-lebih ‘netizen-isasi.’

Statement Bupati dalam pidatonya mengatakan ASN Esselon II munafik, golojo (rakus) jabatan. Di tambah lagi dengan ‘guyonan’ soal gelar sarjana. Di mana menurut Bupati, dia tidak sarjana tetapi mengukum-hukum sarjana. Menurutnya juga, lebih baik menyandang gelar haji daripada gelar Strata 1, 2, atau 3. Hal ini pun akhirnya memantik kesadaran para sarjanawan yang menilai bahwa pernyataan Bupati sangat tidak etis dan tidak sebanding dengan apa yang mereka rasakan selama mengenyam proses pendidikan. Paling tidak, perjuangan penuh kesungguhan dalam mendapatkan gelar sarjana ini tidak pernah dirasakan oleh Bupati, karena beliau tidak pernah menjejaki dunia itu.

Taufik Nurhuda, ketua HPMIB Jogja-Jateng dan juga mahasiswa pendidikan islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta

Di sisi lain –masih menurut saya—hal tersebut sungguh sangat tidak pantas keluar dari mulut seorang pimpinan daerah. Katakanlah Bupati Boalemo lagi berguyon. Tetapi, ‘guyonan’ lagi marah-marah Pak Bupati dengan membandingkan  antara gelar haji dan gelar sarjana sangat tidak Apple to Apple. Sebab, perbandingan seperti ini bukannya mendorong sikap relijiusitas buat para bawahannya melainkan menampilkan sebuah ketidakwajaran yang dilakukan oleh seorang Bupati. Perbandingan ini juga menurut saya seperti menjadikan “gelar haji” sebagai bahan untuk diselebrasikan. Yang menunggu tepukan tangan dan decak kagum penonton.

Alhasil, kejadian ini membuat kita diajak berpikir kembali bahwa setiap kepemimpinan yang dijalani dengan model komunikasi yang berbentuk ‘ancaman’ atau pun ‘intimadasi’ merupakan pertanda sebuah kegagalan seorang pemimpin yang menunjukkan ketidakmampuannya dalam memberikan arahan dan penjelasan serta memberikan keyakinan kepada bawahannya.

Tapi, sudahlah. Dengan melihat keadaan yang seperti ini, saya lebih senang menyeduh kopi, lalu menyeruputnya di balkon rumah. Sembari menikmati semilirnya angin di tengah heningnya malam Ibu Kota Kabupaten Boalemo. (***) 

 682 total views

Facebook Comments