Kebangkitan Kelas Tanpa Akal

oleh -228 Dilihat

Sudah lama saya itu gemas sama teori Marx soal kelas. Pengin saya revisi, begitu (he.eh.he). Atau, kalau para Marxis tidak terima direvisi, saya paka kata “modifikasi” saja, biar sama-sama enak.

Masyarakat kita itu memang ajaib. Yang kelas atas kadang hapenya biasa saja, tapi coba lihat yang kelas bawah menuju menengah, hapenya bagus-bagus. Yang kelas atas dandannya biasa saja, yang di bawah dan yang di tengah dandannya sambar gledek dan anti petir.

Orang kaya lama makin terlihat biasa, orang kaya baru makin terlihat norak luar biasa. Orang kaya lama menggunakan akalnya untuk menipu. Orang kaya baru kadang-kadang menggunakan akalnya buat menipu dan seringkali pula tidak menggunakan akalnya buat kena tipu. Nah yang terakhir ini cukup marak terjadi sekarang. Orang-orang yang datang dari kelas bawah menuju menengah karena baru punya segepok rupiah dan tanah warisan atau baru dapat jabatan menjanjikan dan karena ini mereka kemudian disebut orang kaya baru, dengan mudah sekali kena tipu dari orang yang juga datang dari kelas yang sama. Mereka sama-sama punya passion ingin cepat kaya-raya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Akhirnya kemudian kita sering mendengar ada satu-dua warga yang kena tipu investasi bodong trading. Dari satu-dua tadi lalu meningkat jadi puluhan. Lalu meningkat lagi menjadi ratusan. Hingga ada yang sekampung. Yang terakhir ini terjadi di Gorontalo. Yang kena tipu adalah kelas sosial yang berprinsip “cepat kaya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya” yang saya sebutkan di muka tadi. Dan yang menipu mereka adalah aparat. Ajaib memang. Tapi ada yang lebih ajaib, ternyata ada sejumlah warga yang sampai meminjam ke bank untuk bisa ikutan berinvestasi pada sesuatu yang mereka sendiri tidak punya pengetahuan apa pun tentangnya. Menurut saya tindakan nekat itu patut diberikan rekor MURI.

Maka sebenarnya ini tak melulu soal kelas buruh dan pemilik modal. Atau masalah yang selalu datang dari atas, dari para elit. Masyarakat kita juga bermasalah. Ada kebangkitan kelas sosial yang hampir tidak mengedepankan akal pikiran yang terjadi sekarang ini. Berbanding terbalik dari teori Marx yang mengharapkan kebangkitan sosial yang bertumpu pada kesadaran kelas karena keadaan mereka yang ditindas kapitalisme. Kelas tanpa akal pikiran sekarang ini lebih gila lagi. Mereka ingin terbebas dari kemungkinan untuk kembali terjungkal miskin dengan secepat mungkin harus kaya raya meski menggunakan sulap uang beranak (baca: binary option). Sekarang mari coba kita bayangkan sama-sama, masa depan seperti apa yang mau dibangun dari ambisi tolol semacam itu?

Zaman memang berubah cepat. Teknologi berkembang pesat. Tapi hasrat kita lebih purba. Ia menjadi motif dari kelas-kelas sosial yang ingin cepat kaya raya dan kelas-kelas penipu yang pandai membaca situasi. Pada akhirnya hasratlah yang mengendalikan ini semua.

Saya ingat sepenggal nasihat dari Syeikh Alkujeini, “hanya manusia-manusia yang sanggup membebaskan diri dari keinginanlah yang tak dapat dikendalikan oleh trik sulap cepat kaya raya.”

Oh ya, hampir lupa. Sebenarnya ada satu kelas lagi yang luput saya sebutkan, yakni kelas-kelas yang karena perbedaan pilihan politik kemudian mereka menganggap orang lain berbeda iman meskipun dalam agama yang sama. Yang ini nanti kita bahas kalau sudah mendekati pemilu saja, biar pas momennya.

***

 1,078 total views

Tentang Penulis: Susanto Polamolo

Gambar Gravatar
SUSANTO POLAMOLO Kadang berjualan buku, kadang menjadi peneliti, kadang menjadi akademikus, kadang menganggur

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.