Setan

oleh -185 Dilihat

Di Gorontalo ada beberapa jenis setan yang terkenal, salah satunya misalnya “ponggo”. Tapi jauh sebelum setan-setan yang seangkatan dengan ponggo meramaikan dunia persetanan, telah dikenal setan-setan yang didewakan begitu, sebagai sesembahan lama masyarakat Gorontalo. Oh, dewa? Masyarakat Gorontalo sudah menyebut Tuhannya dewa?

Ternyata penyebutan dewa yang dituhankan itu rupanya dikutip dari catatan seorang bernama Johan Gerhard Frederich Riedel, putra sulung dari penginjil J.F. Riedel yang datang ke Minahasa pada 1831. Riedel junior lahir dan tumbuh besar di Tondano. Dia pernah menjabat sebagai Assistant Resident Gorontalo. Catatannya tentang Gorontalo dirilis pada 1870, sesudah catatannya tentang Minahasa dirilis terlebih dahulu pada 1862.

Gorontalo sepanjang tahun 1800-an akhir yang disaksikan Riedel junior sudah Gorontalo Islam namun itu masa delegitimasi para Olongia, dan rusaknya sistem tata negara adat akibat perjanjian-perjanjian kompeni. Fase keemasan Gorontalo Islam, tahun 1500 sampai 1600-an, sudah lewat. Riedel juga tahu soal ini. Itu sebabnya dia mencatat kitab-kitab tasawuf dan fikih klasik yang beredar di Gorontalo selama ia bertugas di sana.

Tapi di mana-mana tulisan, dari artikel sampai buku, setan-setan katagori dewa yang dituhankan orang Gorontalo yang dilaporkan sepintas oleh Riedel junior itu sering disalin-tempel tanpa penjelasan utuh. Intelektual terkemuka Gorontalo, Basri Amin, bahkan sudah beberapa kali melakukannya. Yang terbaru di kolom Persepsi, Harian Gorontalo Post (26/07/2021), dalam tulisan berkepala “Setan-Setan dalam Sejarah”.

“Gaga da’a kalo punya sumber klasik am ee. Bisa baraba akan. Punya otoritas juga buat basusun premis dan konklusi,” kata saya kepada Jeksen suatu ketika. “Tapi bukang asal salin-tempel,” tegas Jeksen, “melainkan diverifikasi ulang, ato bahkan digubah kembali.” Jika Jeksen sudah ngomong begini, terpaksa saya harus menyimak. Orang ini kadang-kadang dia cukup pintar soalnya. Maka saat itu kami pun berdiskusi.

“Laporan etnografi kolonial pada dasarnya pake cara pandang khas abad 19 tentang animisme. Cara berpikir teori cialat yang dibikin Edward Burnett Tylor itu memang banyak dipakai oleh banyak misionaris dan pejabat kolonial (selain Riedel junior, ada pula Richard Tacco, Bastians, dan Haga) dalam menulis laporan etnografi mereka.

“Ooh, bagitu ee?”

“Iyo, dan Basri, lewat depe tulisan di Gopost, mengekor konstruksi animisme dalam laporan Riedel junior untuk meringkus pandangan dunia orang Gorontalo di masa lalu tentang kepercayaan li dorang sebelum Islam. Jadi orang Gorontalo dulu dorang parcaya dewa-dewa (roh-roh gunung Tilongkabila misalnya). Di antara dewa-dewa itu ada dewa tertinggi, Basri bilang dalam depe tulisan, yaitu Eya. Memang penganut teori animisme tulen beliau.”

“Iyo am e…”

“Memang lebe gampang ambil jalan salin-tempel ala Basri itu. Dia tida perlu repot melakukan riset ulang pandangan dunia orang Gorontalo pra Islam. Esainya di Gopost itu akhirnya terkesan kayak orang lagi puber, meloncat-loncat dan berakhir limbung.”

“Ey, agap, kiapa sampe so jadi bagitu itu, Jek?”

“Kepercayaan lokal kan bukan cuma soal yang menulisnya seorang putra penginjil dan birokrat kolonial yang memeluk teori animisme kuat-kuat macam te Riedel junior dan karena ditulis di tahun 1800-an akhir lalu dianggap akurat. Kepercayaan lokal soal “penemuan filosofis” orang Gorontalo dalam sejarah eksistensinya sebagai manusia di tengah alam semesta. Itu berkaitan deng jati diri, punya sistem logikanya sendiri yang orisinil tentang diri sendiri sebagai orang Gorontalo, tentang alam semesta, hal-hal gaib, dan sang Pencipta. Penjelasan utuh mengenai ini yang ana tunggu dari Basri, panutan kita semua, eh, dia malah menenteng teori dewa-dewa untuk menindih sistem pengetahuan tentang kepercayaan orang Gorontalo pra Islam. Kan jadi tidak ngeceng.”

“Baru dang?”

“Keyakinan dan praktik spiritual orang Gorontalo tidak hidup dalam teori, dorang so praktek, laku hidup sampai Islam datang. Menjelaskannya harus dimulai dari alam pikiran masyarakat, bukan dari laporan-laporan kolonial belaka. Penting, sih, tapi bukan sumber kebenaran apalagi tunggal. Kalo te Kuje bilang, torang pe sarjana-sarjana ini memperlakukan laporan-laporan kolonial itu madelo kitab suci. Hele mo pinjam so nimbole do’e. Dorang jaga banenge-nenge akan.”

“Hi, tingga biar kasana saja dorang pe hak buwayi. Iri bilang bos!”

Jeksen hanya tersenyum mendengar candaan saya. Dia melolos sebatang rokok dan membakarnya. Sesaat kemudian dia beranjak dari duduknya sambil berkata, “Banya orang cerdas di Gorontalo, yang sayangnya, ketika menyusun pengertian tentang kebudayaan Gorontalo di masa lalu justru terjebak di antara gaya oksidental dan orientalis. Talalu banya gaya. Sampa-sampe dorang so tida tau kinapa Dayango yang dorang bilang tari-tarian setan depe mantra so pake Bismillah.”

“Ey, ala, masa olo…”

“Mau bukti?”

“Mau, Jek, uti.”

“Bili akan nasi padang dulu ana baru ana kase lia. He.he.”

“Setan ngana!”

 1,542 total views

Tentang Penulis: Susanto Polamolo

Gambar Gravatar
SUSANTO POLAMOLO Kadang berjualan buku, kadang menjadi peneliti, kadang menjadi akademikus, kadang menganggur

No More Posts Available.

No more pages to load.