Selamat Datang Tokoh-Tokoh

oleh -219 Dilihat

Kuje terpegun dengan mulut menganga memandangi spanduk besar bertuliskan “Selamat Datang Peserta Silatnas III” di sekitar perlimaan tempat biasa dirinya mangkal. Dia tak paham itu acara apa. Seorang kawan, sesama joki bentor, memberitahunya jika itu merupakan acara besar yang nanti akan dihadiri oleh tokoh-tokoh besar Gorontalo. Makanya spanduknya harus besar. Spanduk besar. Tokoh besar.

“Baru mo ba apa dorang di acara itu?” tanya Kuje.

“Ana pe taman yang perna jadi tim sukses bilang, dorang mo bicarakan masa depan lo Gorontalo, bro.”

“Ah, cuma mo abis dibicarakan pooli ini.” Kuje melirik kawannya dengan tatapan sinis.

“Terserah pa dorang, tingga dorang yang tokoh baru ente mo beken apa! Bo joki bentor ngana sayang.”

“Nde roko dulu.”

“Porogege deng ngana, bulum dapa penumpang kita dari tadi pagi sampe sore ini taheds!”

Kedua kawan itu kemudian melepas tawa.

Memang di masa-masa sulit begini, percakapan “di dunia atas” dengan realitas “di dunia bawah” agak berbeda. Di atas orang-orang bicara tentang harapan-harapan, sementara di bawah orang-orang sibuk mengejar harapan. Wajar jika Kuje bersikap kecut. Apalagi Gorontalo baru saja menyabet predikat salah satu dari lima provinsi yang minim inovasi—setelah sebelumnya masuk nominasi 10 besar provinsi miskin di negara ini. Tokoh pusing, rakyat apalagi.

Mungkin karena itulah Silatnas III harus digelar oleh Presnas Center. Tokoh-tokoh penting Gorontalo perlu dikumpulkan, dari menteri, bekas menteri, anggota DPR, sampai pengusaha. Mereka semua perlu dikumpulkan biar bisa ikut prihatin dan syukur-syukur dapat menyumbang solusi konkret bagi Gorontalo.

Tujuan Presnas Center mulia. Niatnya visioner. Joki bentor macam Kuje, jangankan membayangkan Gorontalo 20 tahun akan datang, buat makan seminggu ke depan saja sulit dia bayangkan.

Gorontalo baru perlu imajinasi. Presnas Center sudah benar di jalur itu. Silatnas jadi momentum mereparasi imajinasi Gorontalo baru. Agar terlihat sinkron percakapan di atas dengan realitas di bawah, mungkin ramah-tamah perlu dikurangi. Jumlah orang miskin dapat ditulis di atas kertas dan diangkut ke forum Silatnas, namun mengapa masih ada rakyat yang kelaparan sama sekali tak bisa dijawab oleh angka-angka tadi.

Maka Silatnas sejatinya pertemuan antara para tokoh dengan rakyat, bukan tokoh dengan tokoh belaka. Tokoh dengan rakyat akan mempertemukan imajinasi dengan realitas. Betul apa tidak teori itu, orang seperti Kuje mana ngerti. Tapi Presnas Center pasti ngerti. 20 tahun sudah provinsi mekar, prestasi memalukan 10 besar povinsi miskin dan 5 besar minim inovasi mungkin karena tokoh dan tokoh terlalu sering bertemu atau malah jarang menemukan titik temu buat ketemu. Kalau ketemu rakyat, sih, jangan ditanya. Setiap musim coblosan tiba, rakyat sering digedor-gedor hingga ke pintu dapurnya.

***

 1,986 total views

Tentang Penulis: Susanto Polamolo

Gambar Gravatar
SUSANTO POLAMOLO Kadang berjualan buku, kadang menjadi peneliti, kadang menjadi akademikus, kadang menganggur

Tinggalkan Balasan

No More Posts Available.

No more pages to load.