Pilgub dan Nasib Politik Syarif Mbuinga yang di Persimpangan Jalan

Oleh : Jhojo Rumampuk

Faktanews.com – Politik. Sebagai kader Golkar, arah dan nasib politik Syarif Mbuinga saat ini seakan berada di persimpangan jalan, maju kena mundur kena. Menuju perhelatan Pilgub 2024 mendatang, nasib Syarif Mbuinga seakan penuh tanda tanya.

Di satu sisi ia disuarakan dan digadang-gadang oleh akar rumput maju sebagai calon Gubernur dan dipandang sebagai representasi masyarakat Gorontalo dari kawasan barat Gorontalo, namun di sisi yang lain, arah politik Ketua DPD I Golkar Provinsi Gorontalo Rusli Habibie nampak menghembus ke figur sang istri Ibu Idah Syahidah.

Jika Syarif Mbuinga terpaksa harus  meninggalkan Golkar dan berlabuh ke partai lain, juga membawa konsekwensj-konsekwensi politik yang cukup riskan. Namun masih tertanam dibenak kita semua bahwa Syarif pun sempat diperhadapkan dengan sebuah keputusan tersulit kala Pohuwato menggelar kontestasi Pemilukada 2019 kemarin.

Sebagai politisi yang dikenal santun dan membawa nuansa politik yang sejuk, Syarif Mbuinga bukanlah tipe politisi “kutu loncat”. Jika itu terjadi dan terpaksa dilakukan, maka hal itu  akan berdampak terhadap reputasi dan nama baiknya di benak publik Gorontalo. Sebab dirinya selalu mengucapkan sebuah kalimat yang dimana dirinya tidak akan pernah berhianat terhadap Partai Golkar

Memang bagi sosok politisi seperti Syarif Mbuinga yang selama ini memiliki performance politik tanpa noda, maka ke manapun ia berlabuh, partai politik tertentu membuka pintu yang selebar-lebarnya bagi Syarif. Hanya saja, secara psikologis, Syarif Mbuinga tidak semudah itu untuk lompat pagar. Ia tidak hanya memiliki beban moral tapi juga akan terjadi pergulatan batin yang akan mengguncang relung-relung nuraninya sebagai politisi santun. Mengapa? Karena selama ini ia tumbuh dan dibesarkan oleh Partai Golkar dalam puluhan tahun lamanya.

Namun seberat apapun resiko politik yang akan terjadi, namun Syarif Mbuinga harus mengambil keputusan tegas. Apalagi prosesi Pilgub tinggal menghitung bulan lagi.

Sebagai seorang kader Golkar yang cukup senior, mantan Ketua DPD II Golkar Pohuwato, sungguh sangat ironis jika  Syarif Mbuinga seakan diombang-ambingkan oleh partai yang telah ikut dibesarkannya di Gorontalo.

Arah politik DPD I Golkar Gorontalo yang lebih cenderung mengarah ke figur Idah Syahidah Rusli Habibie, bukan saja faktor “Dinasti” yang melatarbelakanginya, tapi juga faktor politik, dimana Idah Syahidah sebagai Anggota DPR-RI yang lebih memiliki kedekatan dan akses langsung ke DPP.

Dalam komposisi politik yang demikian, maka Syarif Mbuinga mau tidak mau harus bekerja keras. Paling tidak ada 2 jalan yang bisa ditempuh Syarif Mbuinga. Yakni pertama ia harus bekerja keras memperkuat basis dukungan massa melalui hasil survey yang harus lebih tinggi dari kader Golkar lainnya yang juga berpeluang maju sebagai bakal calon Gubernur.

Jika Syarif Mbuinga merasa tidak mampu mendulang dukungan lewat survey yang tinggi, maka alternatif jalan kedua bisa ditempuhnya, yakni mengambil sikap tegas untuk berlabuh ke partai lain yang lebih menghargai keberadaannya atau Syarif mengambil Kursi Ketua DPRD Provinsi Gorontalo di 2024 mendatang.

Mengambil dasar hanya pada kesepakatan pertemuan seluruh DPD saat di Jakarta kemarin, memang benar saat itu telah usulan 2 Nama, Syarif Mbuinga dan Marten A. Taha. Namun itu tidak menjamin karena sebuah sejarah politik Ketua DPD I selalu berubah-ubah.

Lagi pula, dalam tataran politik di tingkat Provinsi, nama Syarif Mbuinga, bukanlah satu-satunya figur yang berada di atas angin. Ia selama ini hanya mengakar di akar rumput masyarakat di wilayah barat Gorontalo. Nama Nelson Pomalingo, Rahmat Gobel, Hamim Pou dan Marthen A. Taha menjadi saingan berat Syarif Mbuinga di Pilgub mendatang. Ditambah lagi Ketua DPD I Golkar yang saat ini tengah serius menaikan elektabilitas sang Istri Dimata masyarakat.

Yang jelas, Hasil survey Golkar tentu menjadi rujukan dan persyaratan yang menghadang Syarif. Dan belum setahun Syarif meninggalkan kursi Bupati, namanya seakan mulai pudar dan tenggelam oleh hiruk-pikuk politik yang dimainkan oleh figur-figur yang masih bertengger di kursi kekuasaan. Jika demikian adanya, mampukah Pasisa mempertahankan eksistensinya sebagai politisi yang tetap berkibar di Gorontalo? Kita tunggu saja…(***)

 1,379 total views

Leave A Reply