Sukses Budidaya Teripang Laut, Mahasiswa 23 Tahun ini Berhasil Dongkrak Ekonomi Masyarakat Torosiaje

Faktanews.com, Gorontalo – Tomy R Umar (23), anak muda asal Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato ini, mampu menopang ekonomi masyarakat Desa Torosiaje ditengah pandemi Covid-19.

Pasalnya, Tomy yang juga sebagai mahasiswa di Universitas Negri Gorontalo itu, ditengah pandemi yang melanda hampir semua sektor di negri ini, berhasil mendongkrak perekonomian masyarakat Desa Torosiaje dengan membudidayakan Teripang Laut.

“Jadi awalnya itu waktu awal pandemi Covid-19, kita dibatasi untuk berbuat apa-apa. Dari situ mencoba Searching di Google, dan Youtube tentang Teripang Laut. Saya cari bagaimana proses Teripang Laut dari masa pemijahan sampai dia besar. Karena aktifitas kita dibatasi saat pandemi, kami gunakan untuk membuat Keramba Jaring Tancap dengan sistim budi daya alami. Jadi untuk teripang lautnya tidak perlu dikasih makan,” Tutur Tomy, saat dijumpai tim Faktanews, Minggu (2/5/2021).

Orang Tua Tomy, saat melayani masyarakat yang menjual hasil tangkapan Teripang Laut (Foto Fadli)

Lebih lanjut, Tomy mengatakan bahwa dengan adanya budidaya Teripang Laut, hampir rata-rata masyarakat Desa Torosiaje beralih menjadi nelayan Teripang.

“Masyarakat melihat teripang laut adalah salah satu jenis biota laut dengan nilai jual ekspor tinggi. Jadi masyarakat tertarik dengan harga dari teripang laut hingga beralih menjadi nelayan Teripang. Teripang laut sendiri cara tangkapnya mudah semua kalangan bisa mencarinya dari bapak-bapak, perempuan hingga anak-anak,” Ujarnya.

Tidak hanya masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan, akan tetapi Kepala Desa, dan aparat Desa Torosiaje pun turun kelaut ikut serta dalam mencari teripang laut.

“Jadi tidak hanya masyarakat nelayan, aparat desa pun ikut terlibat dalam mencari teripang ini. Tergantung sedikit banyaknya teripang kalau banyak yah cukup lumayan untuk menunjang kehidupan sehari-hari dari pendapatan dari 100 ribu rupiah hingga 500 Ribu Rupiah perhari. Dan alat yang dibutuhkan tentu perahu yang utama, untuk alat lainya cuman senter, sepatu lindung berupa boots, dan tombak,” Ungkapnya.

Selain itu, pria 23 tahun ini mengungkapkan bahwa budidaya Teripang ini, sangat berdampak ke anak-anak Desa Torosiaje yang masih sekolah.

” Ini juga sangat berdampak pada pendidikan anak-anak Desa Torosiaje. Yang awalnya mereka ikut orang tuanya melaut karena uang jajan dan lain-lain, dan tidak mementingkan sekolah, sekarang alhamdulillah dengan adanya budidaya ini, meraka dengan mudah mendapatkan uang jajan dan masih bisa sekolah,” Tandasnya.

“Jadi mereka bisa jual semua ukuran Teripang, semuanya dibeli cuman yang besarnya dijual, yang kecil dibudidayakan. Alhamdulillah Satu, Dua bulan belakangan 70 sampai 80 % masyarakat Torosiaje sendiri beralih dari nelayan ikan ke teripang laut dengan pendapatan mencapai 10 juta perbulan,” pungkasnya.

Sementara itu ketua Koperasi nelayan Desa Torosiaje, Sigit Buludawa, berharap komunitas nelayan ini mendapat perhatian, dan dorongan dari pemerintah.

” Harapan saya adalah bagaimana potensi ini yang melibatkan banyak masyarakat terutama dari kaum ibu-ibu, bapak-bapak, ada juga anak-anak yang mencari uang jajan, dan sebagainya lebih diperhatikan lagi oleh pemerintah setempat bahwa salah satu komoditi teripang ini nilai terbesar pertama nilai hasil jualnya termahal di dunia. Oleh karena itu, ini potensi bagi masyarakat. Sehingga dengan adanya dorongan dari pemerintah Insya Allah kedepan bisa lebih baik lagi,” Ungkap Sigit. (Fn12) 

Leave A Reply