Rachmat Gobel Tidak Layak Gubernur Gorontalo

 Oleh : Jhojo Rumampuk

Masa jabatan Gubernur Gorontalo Rusli Habibie untuk periode kedua tinggal setahun lagi akan berakhir. Seiring dengan hal itu, pertanyaan seputar siapa figur yang layak bertengger di Puncak Botu menggantikan posisi Gubernur Rusli Habibie dan juga Wakil Gubernur Idris Rahim,  terus saja disuarakan oleh berbagai elemen di masyarakat.

Sederet tokoh Gorontalo pun mulai diwacanakan dan digadang-gadang. Ada nama Rachmat Gobel, Roem Kono, Nelson Pomalingo, Elnino Husain Mohi, Marthen A. Taha, Syarif Mbuinga, Hamim Pou, Idah Syahidah Rusli Habibie dan tokoh-tokoh lainnya yang kian ramai diperbincangkan.

Hanya saja, perbincangan tentang siapa tokoh yang layak bertengger di Puncak Botu, nampaknya tersandung oleh regulasi baru yang sudah menjadi ketetapan pemerintah pusat,  bahwa Pilkada serentak tahun 2022 ditunda hingga pemilihan umum serentak tahun 2024. Itu artinya, pada februari 2022, daerah-daerah yang dipimpin oleh Kepala Daerah yang telah berakhir masa jabatannya akan dipimpin oleh Penjabat yang dtunjuk dan diangkat oleh Pemerintah Pusat.

Meski demikian, dalam konteks lokal Gorontalo, wacana tentang siapa tokoh yang layak menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Gorontalo periode 2024-2029, tetap relevan mulai diperbincangkan hari ini. Paling tidak, ketetapan pemerintah pusat yang mengagendakan Pilkada serentak nanti dilaksanakan pada 2024, justru secara politis membawa dampak positif.  Disebut demikian, karena masyarakat Gorontalo, masih memiliki rentang waktu yang cukup panjang untuk menggodok dan memperbincangkan siapa figur yang tepat dan layak sehingga benar-benar melahirkan figur pemimpin yang “matang”, mumpuni dan bisa diandalkan untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik lagi.

Kehadiran figur Gubernur dan Wakil Gubernur Gorontalo yang mumpuni pada 5 tahun mendatang sangat urgen dibutuhkan, dirindukan dan ditunggu-tunggu selama ini. Berbagai harapan, optimisme dan cita-cita masyarakat Gorontalo yang sempat menyeruak dalam dalam 2 periode kepemimpinan Rusli Habibie dan Idris Rahim,  ternyata belum sepenuhnya mampu ditunaikan secara elegan. Artinya, duet kepemimpinan Rusli Habibie dan Idris belum sepenuhnya mampu memenuhi harapan, obsesi dan cita-cita masyarakat Gorontalo.

Buktinya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Gorontalo masih masuk 10 besar dengan IPM terendah di Indonesia. Demikian juga dengan tingkat kemiskinan, sesuai data yang diirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Pusat, Gorontalo masih masuk 5 besar sebagai daerah dengan prosentase kemiskinan tertinggi di Indonesia.

Dari 2 aspek itu saja mengindikasikan, bahwa ke depan, Gorontalo membutuhkan figur pemimpin yang tidak hanya mampu meyakinkan masyarakat, tapi pemimpin yang mampu menghadirkan terobosan prospektif dengan lompatan-lompatan pemikiran, konsep dan program yang terarah, tepat dan progresif.

Yang menarik, dari sekian banyaknya tokoh-tokoh Gorontalo yang disuarakan, diaspirasikan dan diwacanakan, terdapat nama Rachmat Gobel yang disebut-sebut sangat tepat dan layak menjadi Gubernur Gorontalo. Berbagai asumsi dan perspektif tentang  kefiguran, keunggulan, semangat dan komitmen Rachmat Gobel untuk kemajuan dan masa depan Gorontalo sudah tidak meragukan lagi.

Hanya saja, pendapat yang mengatakan, bahwa ketokohan Rachmat Gobel “Tidak Level” menyandang jabatan Gubernur patut menjadi bahan renungan dan pertimbangan dari seluruh elemen masyarakat Gorontalo. Pendapat dari berbagai elemen yang mengatakan,  bahwa Gubernur bukan levelnya Rachmat Gobel adalah ungkapan tulus dan ada benarnya juga. Ranahnya Rachmat Gobel adalah Wakil Presiden, Ketua DPR-RI atau paling banter menjadi Menteri Kabinet lagi di masa mendatang.

Artinya, sangat wajar dan tidak berlebihan, jika ada elemen masyarakat yang justru berasumsi bahwa Rachmat Gobel adalah aset Gorontalo yang bisa diandalkan untuk  memperjuangkan kepentingan daerah ini di tingkat pusat. Bahkan lebih dari itu, Rachmat Gobel adalah tumpuan harapan dan sumber kebanggaan masyarakat Gorontalo yang seharusnya diikhlaskan untuk terus berkiprah di pentas politik nasional. Sungguh sangat tidak elok, jika tokoh level nasional seperti Rachmat Gobel  ikut nimbrung dengan tokoh lokal untuk memperebutkan jabatan Gubernur.

Ketokohan Nelson Pomalingo, Syarif Mbuinga, Elnino, Marthen A. Taha, Hamim Pou, Abdullah Gobel dan politisi  Gorontalo lainnya memiliki potensi besar untuk memenuhi harapan, obsesi dan cita-cita bagi kemajuan dan masa depan Gorontalo. Apalagi deretan nama-nama tersebut di atas, telah berpengalaman dan komitmen serta dedikasi mereka untuk Gorontalo sudah tidak diragukan lagi.

Secara sederhana,  jika Rachmat Gobel tetap konsisten berkiprah di pusat dan menjajaki level jabatan Wakil Presiden misalnya, maka kefigurannya akan membawa keuntungan tersendiri bagi Gorontalo di masa-masa mendatang. Bagaimanapun, daerah ini masih membutuhkan perhatian dan intervensi kebijakan dari pemerintah pusat dan hal itu butuh tokoh Gorontalo yang konsisten seperti Rachmat Gobel.

Dalam konteks ini, sebagai seorang tokoh nasional, Rachmat Gobel sejatinya dapat memanifestasikan nilai-nilai yang termaktub dalam falsafah Jawa yang dipopulerkan Ki Hajar Dewantara, Tut Wuri Handayani, Ing Ngarso Sang Tulodo dan Ing Madya Mangun Karsa, yang senantiasa konsisten menebarkan semangat dan spirit kepemimpinan yang berpihak pada rakyat, menjadi teladan dan panutan serta menjadi contoh tentang bagaimana membumikan komitmen kerakyatan kepada  para pemimpin dan politisi lokal demi kemajuan dan masa depan Gorontalo (****)

 622 total views

Leave A Reply