Dalam Syarif Mbuinga Terdapat 3 Instrumen Yang Jadi Rujukan

Oleh : Jhojo Rumampuk

Mengakhiri masa jabatannya sebagai Bupati Pohuwato dengan jejak kiprah kepemimpinan dan pemerintahan yang mengesankan selama 2 periode, menjadikan sosok Syarif Mbuinga, ibarat seorang kekasih yang selalu dirindukan dan diharapkan akan kembali ke dalam kancah kepemipinan dan pemerintahan di Gorontalo.

Bahkan dalam beberapa tahun terakhir ini, Syarif Mbuinga tidak hanya sekadar dijagokan, diaspirasikan dan disuarakan, masuk dalam perhelatan Pemilihan Gubernur Gorontalo, tapi juga diprediksi memiliki kans besar meneruskan kepemimpinan Gubernur Rusli Habibie.

Tidak hanya diaspirasikan, tapi juga ada seberkas keyakinan dari banyak kalangan, bahwa Syarif Mbuinga, sebenarnya masuk dalam lingkaran “putra mahkota” yang memiliki potensi besar bertengger di Puncak Botu. Dapat dipastikan bahwa dalam benak masyarakat Gorontalo, khususnya masyarakat Pohuwato, tersirat sebuah kesan yang mendalam, bahwa Syarif Mbuinga sebenarnya sejak awal, tengah dielus-elus dan dipersiapkan menjadi orang nomor satu di Provinsi Gorontalo pasca Rusli Habibie.

Saya Sangat Hobi Dengan Olahraga Diving (Menyelam)

Dan Sudah Saatnya Saya Menyelami Hati Masyarakat Provinsi Gorontalo

” Syarif Mbuinga “

Paling tidak, asumsi masyarakat itu muncul ke permukaan, karena beberapa aspek penting yang menggejala. Salah satunya adalah faktor kedekatan Rusli Habibie dengan Syarif Mbuinga selama ini, yang nampaknya tidak hanya sebatas hubungan antara atasan dan bawahan dan sesama kader Golkar, tapi lebih dari itu, ada instrumen lain yang menyeruak ke dalam tataran publik. Diantaranya adalah pengakuan dan apresiasi Gubernur Rusli Habibie terhadap kinerja Syarif Mbuinga sebagai Bupati Pohuwato yang selama ini sejalan dengan harapan Pemerintah Provinsi.

Dari fakta inilah sebenarnya, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa, sebagai seorang politisi dan Gubernur sekaligus, nalar seorang Rusli Habibie untuk menelaah siapa penerusnya yang berkesesuaian dengan harapan dan cita-citanya tengah berjalan dan berproses dan pada suatu ketika akan berwujud dalam bentuk keputusan.

Terlepas dari hal itu, paling tidak, terdapat 3 instrumen penting yang menjadi rujukan, mengapa Syarif Mbuinga dijagokan dan harus melangkah untuk menapaki Puncak Botu.

Pertama, Syarif Mbuinga adalah satu-satunya kader Golkar yang menjabat Bupati di Gorontalo dengan perolehan suara yang cukup signifikan dalam 2 kali Pemilihan Kepala Daerah di Pohuwato. Dalam konteks ini, Syarif Mbuinga dinilai merupakan sosok yang memiliki “resistensi minimal” menuju Puncak Botu. Atau dengan kata lain, langkahnya menuju Puncak Botu nampak mulus, tidak banyak noda dan noktah yang mengganggu dan menghadangnya ketika menuju Puncak Botu.

Kedua, Syarif Mbuinga adalah pemimpin yang dikenal santun, berpembawaan tenang dan memancarkan aura politik yang sejuk, ramah, responsif dan tanggap terhadap persoalan-persoalan kemasyarakatan. Faktor ini menjadi “Modal Dasar” yang sangat fundamental bagi jabatan seorang Gubernur sebagai wakil Pemerintah Pusat di daerah yang mengemban fungsi koordinasi.

Saya Pun Sangat Suka Bersepeda

Insya Allah Saya Akan Coba Bersepeda Dari

Kabupaten Bone Bolango

” Syarif Mbuinga “

Dalam tataran realitasnya, orang Gorontalo itu lebih segan, takut dan menghormati orang yang “ramah, baik dan pendiam” dari pada orang yang ceplas-ceplos dan cenderung vulgar. Watak seorang yang “ramah-pendiam” dalam tataran realitasnya, sering diibaratkan seperti Banteng yang selalu dijaga jangan sampai marah dan mengamuk. Dengan begitu, secara psiko-sosial, Gorontalo ke depan, membutuhkan type pemimpin seperti ini agar pemerintahan Kabupaten-Kota yang memegang hak otonomi daerah, tidak hanya sekadar menaruh hormat karena faktor jabatan Gubernur saja, tapi segan karena pribadi dan karena jabatan sekaligus. Dengan begitu, antara Pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota terwujud sinkronisasi dan sinergitas yang berirama harmoni.

Apalagi, performance Syarif Mbuinga sebagai politisi yang santun, ramah dan sejuk, selama ini tidak hanya dikenal dan dirasakan masyarakat di Pohuwato, tapi juga terterima secara baik dalam skala Provinsi. Karena sesungguhnya kesantunan politik ditengah merebaknya “Dekadensi moral” yang dipertontonkan oknum politisi secara vulgar dalam skala nasional, cukup meresahkan dan mengusik rasa kepercayaan masyarakat.

Ketiga, dari segi kapasitas kepemimpinannya, eksistensi Syarif Mbuinga sudah tidak diragukan lagi. Hal itu telah terbukti selama 2 periode kepemimpinanya di Pohuwato yang mampu melahirkan model kepemimpinan yang aplikatif yang berwujud melalui capaian pembangunan yang progresif dari tahun ke tahun.

Berbagai indikator-indikator kemajuan di Kab. Pohuwato selama satu dasawarsa terakhir ini menunjukkan, bahwa pemerintahan Syarif Mbuinga meninggalkan jejak karya dan karsa yang mengesankan dengan asumsi-asumsi keberhasilan yang jelas, terukur yang ditunjang oleh fakta dan data.

Dari performance kepemimpinan Syarif Mbuinga yang demikian mengesankan ini, maka kehadiran Syarif Mbuinga di Puncak Botu adalah sebuah obsesi dan cita-cita publik yang tidak bisa dipungkiri. Di sisi yang lain, Syarif Mbuinga harus menelaah aspirasi dan cita-cita masyarakat itu untuk kemudian memantapkan langkah menuju Puncak Botu. (**)

 250 total views

Leave A Reply