Fakta News
Ultimate magazine theme for WordPress.

Hujan, Banjir Dan Cuitan Dambea

Oleh : Ti Kama (Nurmawan Pakaya)

Faktanews.com – (Tajuk),Apa yang terbayang ketika kita mendengar kata hujan? Airkah? Petirkah? Gemuruh suara di atas awankah? Atau justru di balik kata hujan kita malah membayangkan hal-hal lain di bawah kendali alam sadar kita? Sebut saja rindu, kenangan atau malah mantan yang meninggalkan kita saat sedang sayang-sayangnya?

Silakan membayangkannya.

Dalam sepekan terkahir hujan turut mengguyur daerah Gorontalo dan sekitarnya. Tentu tanah basah juga bau yang lembab saling bertautan di sana, menjadi satu bagian dari fenomena alam yang biasa-biasa saja. Bukankah kita semua kerap menganggap hujan adalah bagian dari fenomena alam yang biasa-biasa saja? Kecuali bagi mereka yang tinggal di kawasan Sudirman — Toko Mufidah Gorontalo.

Bagi mereka yang mendiami kawasan Sudirman, Gorontalo. Hujan ibarat mimpi buruk yang setiap kali bermusim sudah pasti membayang-bayangi mereka. Ya, apalagi kalau bukan banjir sepanjang kawasan Toko Mufida. Sebenarnya bukan banjir, melainkan genangan air yang nyaris melewati lutut orang dewasa. Sebagai salah satu pusat perbelanjaan di Kota Gorontalo, Toko Mufida juga memberikan efek manfaat bagi Abang Bentor yang setiap harinya ‘mangkal’ mengais rejeki harian di sana. Selain daripada itu, kawasan Toko Mufida sebagai jalur lalulintas protokol. Artinya, setiap hari kawasan itu selalu ramai. Entah ramai karena banyaknya pengunjung atau kendaraan roda dua dan empat yang lalu-lalang melintas di sana. Intinya Mufida akan selalu ramai setiap harinya.

Sejenak, mari kita tinggalkan soal mantan yang mengintai di balik hujan. Mari kita buang jauh-jauh kenangan yang sedang berdiam di balik hujan. Kita hanya perlu membayangkan tatkala hujan turun dengan lebatnya lalu perlahan menggenang kawasan Toko Mufida.

Bayangkan saja jalur protokol yang semula ramai tiba-tiba menjadi sepi. Nyaris tak ada yang mau melintas, selain suara kodok yang bersahut-sahutan pun menjadi sebuah tangga nada pengantar tidur.

Bayangkan saja bagaimana nasib para abang bentor yang menanti penumpang di bawah rintik hujan, di atas genangan air yang nyaris menyentuh lutut mereka.

Bayangkan saja bagaimana para pengendara roda dua yang ekstra hati-hati melintas di sana, bahkan tak jarang ada peristiwa terceburnya sepasang kekasih yang sedang asik-asiknya melintas namun berujung  pada sesuatu yang sering kita sebut ‘soe’.

Sudahkah kita membayangkan peristiwa-peristiwa tersebut? Atau malah tidak ada sama sekali bayangan soal kejadian-kejadian di atas? Sebaliknya, kita malah justru membayangkan bagaimana seorang Dambea dengan cuitannya yang dibalas mesra oleh Kepala Dinas PUPR Kota Gorontalo, Meidy N. Silangen?

Alih-alih, cuitan Dambea yang beberapa hari lalu itu, ingin memberikan warning kepada Pemerintah Kota. Kenyataannya yang terjadi justru berbalas pantun di media onlen. Padahal, persoalan banjir yang kerap menghantui warga sekitar kawasan Mufida harus segera dituntaskan. Sistem tata kelola kota yang amburadul dan serba pukul rata adalah asbab yang tidak terbantahkan. Lebih-lebih jika yang di cuitkan hanya persoalan “projek” pengerjaan saluran di kawasan Mufida.

Bukankah lebih eloknya sebelum memulai proses pengerjaan, baik Dambea maupun Meidy saling berkomunikasi terlebih dahulu? Mencari solusi terbaik yang bukan hanya menitik beratkan pada “siapa pemenang tender?” Bukankah lebih manis jika Meidy tidak melulu menjelaskan soal teknis yang telah direkomendasikan oleh Pihak DED (Detail Engineering Desain), melainkan Meidy terlebih dahulu membicarakannya dengan Dambea yang memiliki kapasitas sebagai wakil rakyat? Toh perkara banjir di kawasan Sudirman — Toko Mufida bukan soal cuitan Dambea dan Meidy, melainkan ini semua soal warga sekitar yang terkena dampak.

Di sana, di kawasan Toko Mufida ada abang-abang bentor yang harus memenuhi kebutuhan dapurnya, ada pelanggan toko yang punya keperluan rumah tangganya, ada pedagang kaki lima yang harus menjual dagangannya sampai laku. Di sana juga, di jalur lalulintas protokol Sudirman ada sepasang kekasih yang harus rela kehilangan momen indahnya ketika kendaraan roda duanya, ikut tercebur di saluran.

Bayangkan!

Pencatat sedang resah dengan hujan yang tak kunjung merendah, di Ngaglik. (***)

Tulisan ini sepenuhnya jadi tanggungjawab penulis

 402 total views

Facebook Comments