Fakta News
Ultimate magazine theme for WordPress.

Kejari Dan Polres Malteng Melakukan Mediasi Konflik Antar Warga Di Kecamatan Amahi


Faktanews.com – Kabupaten Maluku Tengah, Kejaksaan Negeri Masohi dan Kepolisian Resort (Polres) Maluku Tengah (Malteng), menggelar Restorasiv Justic atau penyelesaian perkara diluar pengadilan atas kasus perkara penganiayaan dengan tersangka masing-masing Rusdi Samalo, Saharudin Wailissa warga Negeri Tamilow, korban Manue Sunawe warga Dusun Rohua Negeri Sepa Kecamatan Amahai Kabupaten Malteng.

Perkara yang melibatkan konflik antar warga Negeri Tamilow dengan warga Dusun Rohua Negeri Sepa, meresahkan warga, membuat pihak Polres Malteng bekerja keras memediasi penyelesaian untuk tidak menimbulkan konflik yang lebih besar.

Restorasip Justic (RJ) merupakan jalan perdamaian kedua pihak atas permohonan kesepakatan damai dihadapan penyidik Polres Malteng dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Masohi.

Pelaksanan Restorasiv Justic (RJ) dipusatkan di lokasi Tempat Kejadian Perkara (TKP) di perbatasan Negeri Tamilow dan Negeri, tepatnya di Dusun Lahati, Rabu, (7/10/20). Dihadiri Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Masohi Juli Isnur, SH. MH, dan Kapolres Malteng AKBP Rosita Umasugi,  dan disaksikan oleh Camat Amahai Semy Birahy, Kapolsek Iptu Iwran, S.Hi, Raja, Saniri dan Kepala Pemuda dari kedua negeri yang berkonflik.

“Sebelum pelaksanaan Restorasiv Justic, dan penandatangan kesepakatan perdamaian,  tadi diawali dengan penyerahan tersangka oleh penyidik Polres Malteng kepada JPU Kejaksaan Negeri Masohi atau tahap dua. Jadi semua proses hukum sudah dilakukan, karena ada kesadaran dari pihak tersangka untuk  meminta agar kasusnya dapat diselesaikan secara kekeluargaan dan pihak korban dapat menerima, kemudian pihak kepolisian dan kejaksaan mempertimbangkan stabilitas sehingga sinergitas Polres dan JPU maka Restorasiv Justic dapat dilakukan, ” tegas Kajari Malteng Juli Isnur, SH. MH,  kepada wartawan.

Dirinya mengingatkan kepada dua bela pihak yang menyatakan perdamaian bahwa, kesepakatan yang dibuat sangat berat dan memiliki konsekuensi hukum yang siap diterima. Artinya, jika salah satu yang memulai melakukan pertikaian maka langsung diproses hukum dan tidak ada ampun.

“Saya ingatkan, siapa yang memulai pertikaian, langsung diproses hukum dan tidak ada upaya penyelesaian kekeluargaan. Penyelesaian hukum diluar pengadilan atau Restorasiv Justic yang dilaksanakan hari ini, sudah melalui proses hukum,  namun jangan beranggapan bahwa, kembali melakukan pertikaian dapat dilakukan perdamaian,” Tuturnya.

“Untuk itu kita sudahi seluruh pertikaian, jangan membuka peristiwa yang perna terjadi, mari memulai yang baru dan hidup berdampingan dengan aman dan damai. Sebab damai itu indah, masing-masing dapat menahan diri dan selalu mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa,” Tambahnya.

Sementara itu Kapolres Malteng AKBP Rosita Umasugi, mengatakan bahwa, sejak kasus perkara penganiayaan terhadap korban Manue Sunawe oleh tersangka Rusdi Samalo dan Saharudin Wailissa warga Negeri Tamilow pada Agustus kemarin. Pihak Polres Malteng langsung bertindak dengan melakukan pendekatan agar blokade jalan dibuka karena mengganggu ketertiban warga yang lain.

“Saat itu kita lakukan pendekatan dan melakukan mediasi terhadap kedua pihak agar belokade jalan dibuka. Selain itu dilakukan proses hukum dengan dikeluarkan SPDP ke pihak Kejaksaan Negeri Masohi.  Selanjutnya dilakukan penyelidikan dan kemudian ditetapkan tersangka,” Imbuhnya.

Pada saat itu, keluarga pelaku dan korban melakukan pendekatan untuk kasus ini diselesaikan dengan jalan damai,  namun karena SPDP sudah dikeluarkan sehingga kasusnya berlanjut sampai pada penyelidikan.

Karena salah satu pelakunya belum tertangkap sehingga upaya damai belum disepakati. Nantinya setelah satu pelakunya ditangkap, terus ada upaya dari dua pihak untuk berdamai, dan hasil sinergitas Polres dengan JPU Kejari Masohi, pertimbangan keamanan dua Negeri maka hari ini tahap dua yakni penyerahan tersangka dan barang bukti dari penyidik ke JPU Kejari Masohi, kemudian dilakukan kesepakatan perdamaian atau Restorasiv Justic yang kita saksikan bersama,” tegas Umasugi.

Untuk diketahui, mereka yang menandatangi kesepakatan perdamaian, masing-masing Raja Negeri Sepa Asgar Amahoru,  Sekretaris Negeri Tamilow Abubakar Lessy,  Saniri Negeri, Sepa dan Tamilow, Kepala Pemuda Tamilow, Kepala Pemuda Dusun Rohua Negeri Sepa, Kepala Dusun Rohua Negeri Sepa,  Korban Pengurusan Tanaman dan korban penganiayaan serta tersangka. (Fn/Uc)

 39 total views

Facebook Comments