Fakta News
Ultimate magazine theme for WordPress.

Dandim 1502/Masohi Gelar Caffee Morning Bersama Forkopimda Malteng Dan SBT

Faktanews.com (Daerah) – Kabupaten Maluku Tengah, Komandan Komado Distrik Militer (Dandim 1502/Masohi), Letnan Kolonel (Letkol) Nunung Wahyu Nugroho, S.IP. Menggelar kegiatan Coffee Morning bersama Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopinda) Kabupaten Malteng dan Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Jumat (19/6).

Diskusi yang berlangsung di Aula Makodim 1502 dan dihadir Bupati Malteng Tuasikal Abua, SH. Bupati SBT Mukti Kaliobas, Kapolres Malteng, Kapolres SBT,  Kajari Masohi, Ketua Pengadilan Negeri Masohi, pimpinan OPD Malteng dan SBT, Danyon 731/Kabaressy, Danden POM, Pimpinan Perbankan di Masohi dan sejumlah awak media, itu mengangkat Tema “Sinergitas Membangun Bangsa”.

Bupati Malteng Tuasikal Abua, dalam sambutannya berharap melalui pertemuan ini, kedepannya Forkopimda Malteng dan Seram Bagian Timur, (SBT), akan lebih bersinergi dan meningkatkan komunikasi.

” Koordinasi terutama dalam pengambilan kebijakan terkait penanganan COVID-19 serta persiapan pelaksanaan New Normal di masing-masing daerah serta berharap dukungan dan peran aktif dari seluruh anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah baik Malteng maupun SBT sehingga pengendalian penyebaran COVID-19 akan lebih efektif, terhindar dari polemik dan semakin dapat dikendalikan,” Tuturnya.

Sementara itu Bupati SBT Mukti Kaliobas, mengatakan bahwa untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di dua kabupaten bertetangga, maka perlu menyatukan konsep. Sebab kita tidak perna tau kapan wabah ini akan berakhir.

“Perlu menyatukan konsep penanganan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Hari ini kita ketemu dengan berbagai gagasan,  apa yang dilakukan Pemkab Malteng dengan memperketat pintu masuk termasuk daerah perbatasan kabupaten merupakan langka tepat dan ini kami mendukung,” Ujarnya.

Kondisi luas wilayah pulau seram kata Mukti,  sangat luas dan pintu masuk dari berbagai penjuru ada, mau dari papua melalui SBT maupun Malteng semuanya bisa. Sebaliknya dari Ambon maupun Maluku Tenggara bisa melalui melalui SBB,  Malteng dan juga SBT. “Saat ini aparat semakin ketat,   sebaliknya masyarakat juga semakin linca untuk mengalabui aparat biar biasa pulang dan pergi.

” Masyarakat SBT khususnya mahasiswa yang ada di Ambon kita larang untuk kembali ke kampung,  dan biaya hidup mereka menjadi tanggung jawab pemda. Namun saat ini meraka minta kembali alasannya biaya hidup dari pemda sudah habis,  ini menjadi persoalan baru untuk kita kondisikan, ” Pungkasnya. (FN/Uc)

 148 total views

Facebook Comments