Fakta News
Ultimate magazine theme for WordPress.

PSBB ITU APA ?

Ekspektasi vs Realitanya Di Gorontalo

Penulis : Rifyan Ridwan Saleh

 

Faktanews.com (Tajuk) – Semakin hari semakin kacau saja keadaan dan kondisi ini dibuatnya, si Corona memang sangat ambisius menguasai bumi seperti monster-monster pada kisah-kisah fiksi yang mengisi imajinasi saya dimasa kecil. Namun kali ini, para pahlawan seakan tak berdaya melawannya.

Ketakutan pun semakin menjadi-jadi meskipun ada beberapa orang bahkan kelompok tertentu mengklaim memiliki antibodi melawan predator yang satu ini. “Kami tidak takut Corona, dimana ada Corona kirimkan kami kesitu” pret, tepat beberapa waktu setelahnya salah satu diantaranya dijemput oleh Corona tanpa ampun.

Saat ini pandemi Corona telah menelan banyak korban, bukan hanya pasien yang positif, tapi yang negatif bahkan double negatif pun menjadi korbannya. Situasi politik memanas, ekonomi melemah, bahan makanan pokok pun harganya melonjak tinggi. Disituasi semacam ini, siapapun merasakan dampaknya.

Dalam politik disituasi saat ini banyak yang ingin tampil seperti para dewa, saling berebutan panggung, bahkan satu panggung untuk semuanya dengan nomor antriannya masing-masing. Seperti misalnya diperbatasan-perbatasan Gorontalo, tiba-tiba semua ingin berada diperbatasan membawa pasokan bantuan, lucunya mereka lupa bahwa yang butuh bantuan bukan hanya di titik-titik tersebut karena yang lainnya tidak mendapatkan sentuhan tangan dingin dewa-dewa ini. Bahkan yang terupdate, tiba-tiba saling lapor ke pihak kepolisian sehingga singgasana raja menjadi kursi panas kembali, akh sangat menjengkelkan menceritakannya.

Situasi ekonomi justru lebih parah, pasar-pasar ditutup, pelaku ekonomi konvensional pun menggerutu karena tak dapat pemasukan. Transaksi ekonomi tidak se-online yang dibayangkan, mereka tidak mendapatkan pasokan pendapatan jika tidak turun dari rumah untuk bekerja. Sangat jauh berbeda dengan para politisi, pegawai negeri sipil, dan profesi lainnya yang tetap mendapatkan gajinya meski tetap berada didalam rumah, gajinya bisa ditransfer dan ditunggu didalam rumah. Bahkan meskipun sisa gajinya dipersembahkan untuk melawan pandemik, masih lebih banyak pendapatan proyek-proyek terselubung yang tinggal menunggu dipanen saja.

Berbeda dengan para pedagang kaki lima di pasar-pasar, para petani, para nelayan, buruh yang harus keluar rumah dulu untuk kemudian mendapatkan gaji atau pendapatannya. Uangnya mungkin memang tidak seberapa, tapi itu sangat bermanfaat, mereka harus menghidupi istri dan anak-anaknya dirumah di masa-masa pandemi dan ramadhan ini.

Warga geger, tiba-tiba PSBB berkumandang seperti adzan di masjid-masjid yang sudah jarang terdengar lagi karena si Corona ini. Apa sih itu PSBB? PSBB adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar, atau jika ingin lebih jelas coba baca perpanjangan PSBB telah diatur dalam Permenkes Nomor 9 tahun 2020 tentang pedoman PSBB yang jelasnya PSBB disituasi saat ini tujuannya adalah untuk mengendalikan epidemiologi. Tapi apa iya dalam 14 hari selesai terkendali, kami masih sama-sama ragu, karena mengingat kondisi ekonomi, psikologi dan budaya masyarakat kita yang berbeda.

Di Gorontalo bahkan sejak masker dibagikan secara gratis, penyemprotan disana-sini, tempat cuci tangan difasilitasi di rumah-rumah dan korban terus bertambah tetap saja masih sering saya jumpai “kuman-kuman yang membandel” mereka orang-orang yang tidak percaya Corona berbahaya bahkan menantangnya, tak mau pakai masker dan tak mau cuci tangan karena mereka yakin 100% sehat dan bersih. Memaksakan diri untuk tetap beraktifitas hal ini karena memang pemerintah belum mampu menjamin dan mensubsidi bahan pokok serta tingkat kepercayaan kepada pemerintah/para pakar sangat kurang belum lagi diperparah oleh doktrin teologis yang salah kaprah, uuuh sungguh ironis.

PSBB kepanjangannya bisa berubah menjadi Politisir Saja Baik-Baik, Pasrah Saja Bolo Bagitu atau Pasti So Baku Bagi, begini keadaan di masyarakat kita, psikologi dan legitimasi moral pada kebijakan publik. pemerintah saat ini sepertinya harus meninjau baik-baik setiap kebijakannya, agar lebih relevan dan efektif.

Apapun itu tentang dan soal PSBB; mari sama-sama kita lawan Corona ini, caranya mudah kita harus tetap menggunakan masker, rajin cuci tangan, jaga jarak dan hindari keramaian. Saya sejak Corona ini datang mampir di Indonesia, pendidikan saya di salah satu universitas di Jakarta menjadi tertunda untuk wisudanya karena lebih memilih berada dikampung halaman untuk mengkarantina diri bersama keluarga. Peduli amat meskipun dibuli “panako ente ini” saya lebih baik mencegah daripada mengobati. Semoga kita semua mampu melewati fase-fase tersulit ini. Salam sehat, marhaban ya ramadhan. (***) 

 717 total views

Facebook Comments