Fakta News
Ultimate magazine theme for WordPress.

Kartini Dan Hegemoni Sejarah Perempuan

Faktanews.com – (Tajuk), Eksistensi perempuan Indonesia, tentu tidak terlepas dari sosok Kartini. Perjuangan perempuan selalu dilekatkan pada tokoh yang satu ini, entah itu Emansipasi perempuan, pahlawan perempuan, dan bahkan aktivis perempuan dalam memperjuangkan pendidikan pribumi pada masa Kolonial. Penghayatan dan dramatisasi kaum perempuan oleh banyak penikmat sejarah terhadap Kartini, menuai pelbagai macam kritikan oleh beberapa penulis yang  mempertanyakan ketokohannya. Kemarin tanggal 21 April merupakan momentum peringatan hari Kartini, yang selalu diperingati hampir tiap tahun. Ada yang dengan ucapan sangat halus nan ayu, menggambarkan bahwa sosok perempuan harus lembut dan ayu, dan ada juga dengan ucapan yang kasar, keras, dan frontal, sebut saja Kartini-is garis keras seolah  ingin membangkitkan semangat kaum perempuan. Bahkan ada yang menganalogikan tokoh Kartini dengan perempuan-perempuan rebahan guna untuk melawan Corona Virus yang saat ini sementara melanda dunia, entahlah mungkin ingin merelevansikan gerakan Kartini dan gerakan perempuan rebahan saat ini. 

 ” Ahh Kartini tak tau apa istilah rebahan wahai kaum melankolis”

Perjuangan perempuan tak harus selalu di lekatkan pada sosok Kartini. Belajar Memahami sejarah maka harus juga memahami bagaimana kondisi sosio-cultural pada saat itu. Kartini dikenal oleh semua orang sebagai sosok supererior dikalangan perempuan, wajar saja dia berani mengkritik, karena hampir semua teman-temanya merupakan keturunan Kolonial Belanda, seperti Stella, Ny.Abendanon, Ny Ovink-soer dll. kartini tak harus sembunyi-sembunyi dan takut melwan ketidakadilan pada saat itu, meskipun hanya dengan tulisan. Dia hanya butuh selembar kertas dan sebuah pena, tanpa harus membaca kondisi dan situasi, apakah dia terancam atau tidak.

Berbeda dengan sosok pejuang perempuan lainya, ada Cut Nyak Dien sosok perempuan muslim yang mampu membangkitkan semangat warga Aceh pada saat itu, bukan hanya lihai membangkitkan semangat, tetapi dia juga ikut serta mengangkat senjata melawan kolonial Belanda. dari keberaniannya itu dia dikenal sosok perempuan yang ditakuti oleh tentara belanda. Dewi Sartika (1884-1947) merupakan sosok perempuan asal Bandung yang bukan hanya berwacana dan memiliki konsep pendidikan, beliau berhasil mendirikan sekolah (1910). Yang belakangan bahkan sekolah itu bukan hanya di Bandung tetapi ada juga di luar kota Bandung. Selanjutnya ada sosok perempuan Rohana Kudus (1884-1972) dia juga melakukan hal yang sama seperti yang di buat oleh Dewi sartika, selain mendirikan sekolah kerajinan amal setia (1911) dan Rohana School (1916) dia bahkan menjadi jurnalis di koto Gadang sampai dia mengungsi ke Medan. Dan masih banyak lagi sosok perempuan yang sayang ketokohannya sengaja di tutup tutupi.

Kartini Tak Se-suporior Yang Kau Bayangkan

Kira-kira sekitar 19 tahun yang lalu muncul sebuah jurnal islamia (INSISTS-Republik). Jurnal yang berbentuk koran itu terdapat tulisan seorang sejarawan Tiara Anwar Bahtiar yang judul tulisanya “Mengapa harus Kartini?, apakah tidak ada tokoh lain yang ditokohkan selain Kartini?. Di atas sudah kita bahas selain Kartini, banyak tokoh perempuan yang  layak untuk ditokohkan, sekali lagi, sayang ketokohan mereka di tutup tutupi. Dalam, buku Satu Abad Kartini (1897-1979) yang di terbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan pada tahun 1990 cetakan ke-4 Hasjra W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “ Kartini dan peranan wanita dalam masyarakat kita” tulisan yang bersifat kontroversial ini ternyata bernada gugatan terhadap penokohan Kartini.

“ Kita mengambil alih kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang belanda” tulis Hasjra W. Bahtiar.

Apa ada hubungan ketokohan kartini dengan belanda? Mari coba kita pahami konteks persitiwa melalui  pendekatan dalam sejarah.

Pertama, kartini merupakan sosok wanita Jawa yang kala itu terbawa arus politik etis (balas budi)  Kolonial Belanda setelah parang Jawa yang panglima perangnya pada saat itu adalah Pangeran Diponegoro. Tak hanya itu, Kartini anak dari seorang tokoh sekaligus bangsawan yang amat dekat dengan Kolonial Belanda, pantas saja Kartini punya kesempatan bergaul bahkan sekolah bersama dengan orang-orang berkulit putih itu. Aktifitas pendidikan Kartini bisa dibilang cukup lancar dan aman aman saja karena selama mengenyam pendidikan dia tidak pernah mengalami pengucilan dan diskriminasi.

Kedua, perkenalan Kartini dengan orang-orang Belanda Mempertemukan dia dengan tokoh tokoh pemikir Belanda, corak pemikiran yang cukup berbeda dengan mereka, kartini mulai membuka diri berdiskusi mengenai ide-ide moderen, terutama perjuangan wanita dan sosialisme serta  persoalan kesetaraan gender, memang pada saat itu para aktivis perempuan belanda sangat getol-getolnya memperjuangkan kesetaraan. Kartini menganggap bahwa Ini merupakan hal yang patut untuk diperjuangkan, mengingat budaya culture pada saat itu perempuan hanya menjadi objek birahi para kaum lelaki, terlebih persoalan domestik.  Sehingga mulailah Kartini terpengaruh dengan paham-paham Feminisme. Ingat ! ide pikiran kartini itu tidak lahir murni dari kegelisahannya, tetapi lahir dari ide orang orang berkulit putih itu.

Ketiga,  ketokohan Kartini baru muncul di permukaan stelah dikumpulkannya berbagai macam surat yang ditulisnya, kurang lebih 6 tahun setelah Kartini wafat. Tak banyak orang tau ternyata sosok yang mengumpulkan surat menyurat kartini sebelum akhirnya di jadikan sebua karya. Yaitu Abendanon, dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga bahas inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princes beberapa tahun kemudian terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Konspirator Penokohan Kartini

Percaya atau tidak, Kartini dimasanya tidak dikenal. Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, orang-orang berkulit putih itu mengadakan prakarsa mengumpulkan dana untuk memperkenalkan nama Kartini serta ide-idenya pada orang belanda, apa? Dana yang di kumpulkan untuk memperkenalkan sosok perempuan yang satu itu. “orang-orang Indonesia diluar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bila mana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka,” Tulis Harsja Bahtiar.  Tokoh sosialisme  H.H Van kol dan penganjur “Haluan etika” C.Th.Van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Penokohan Kartini tidak terlepas dari campur tangan Belanda, Snouck Hurgoronje dan Abenon merupakan konspirator dibalik penokohan kartini. Seperti di ungkap oleh Prof.Harsja W Bachtiar; Snouck Hurgoronje adalah seorang orientalis Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk memingirkan islam dari bumi  Nusantara.  Taukah kalian kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck Hurgoronje, Kartini memandang Orientasi-kolonialis Belanda itu sebagai orang hebat  yang sangat pakar terhadap persoalan islam. Tokoh tokoh Belanda sengaja menutup nutupi ketokohan pejuang / aktivis perempuan muslim, guna untuk memahamkan kepada penikmat sejarah bahwa , perempuan islam tidak mempunyai kontribusi terhadap perjuangan bangsa dan negara. Padahal kalau kita mau bersifat sinkretis kita bisa lebih selektif menerima dan mengonsumsi sejarah. Maka seharusnya informasi tentang wanita- wanita hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. (***) 

Penulis: Aris Setiawan, Founder POTOH (Potret Tokoh) 

 780 total views

Facebook Comments