Fakta News
Ultimate magazine theme for WordPress.

Karena Kebijakan, Wisata Bolihutuo Jadi Kandang Sapi?

Wisat Pantai Pertama di Boalemo Yang Disulap Jadi “KANDANG SAPI’ KARENA “SIM SALABIM KEBIJAKAN ACAK-KADUT PEMERINTAH”

Faktanews.com (Tajuk), Kurang lebih sekitar lima belas kilometer, jarak tempuh dari pusat kecamatan Tilamuta untuk sampai ke Pantai Bolihutuo yang berada di kecamatan Botumoito. Dulu, pantai yang terletak persis di pesisir Teluk Tomini ini, dan lebih dikenal dengan Objek Wisata Boalemo atau Pantai Bolihutuo, menjadi tempat wisata yang sangat digandrungi oleh masyarakat Provinsi Gorontalo, khususnya masyarakat Boalemo. Hamparan panjang pasir putih, gunung-gunung yang menjulang, dan hijaunya pohon-pohon pinus yang banyak tumbuh di bibir pantai tersebut, menambah keeksotisan Pantai Bolihutuo sekaligus menjadi daya tarik tersendiri buat para wisatawan yang datang berkunjung ke sana.

Man Muhammad (Penikmat Kopi Hitam)

Konon, sebelum diambil alih oleh Pemerintah Kabupaten Boalemo, Pantai Bolihutuo awalnya ditemukan oleh Ami Azan yang waktu itu berburu rusa bersama teman-temannya. Dan karena pesona keindahan alamnya, Ami Azan pun memutuskan untuk membuat tempat tinggal di pesisir Pantai Bolihutuo yang masih seperti hutan belantara dan mengajak serta seluruh keluarganya untuk tinggal di sana. Lambat laun, pesona Bolihutuo mulai tersebar ke berbagai kalangan.

Mulai dari turis lokal hingga turis nasional dan internasional, silih berganti untuk datang menikmati keindahan pesona Pantai Bolihutuo yang masih alami. Setelah mengambil alih pengelolaan pantai, Pemerintah Kabupaten Boalemo pun mulai berjibaku membangun pantai agar menjadi lebih indah. Dinas Pariwisata yang kemudian menjadi penanggung jawab penuh atas tindak-tanduk kegiatan dan pengembangan objek wisata pantai Boalemo tersebut. Pengadaan alat-alat sebagai pelengkap tempat wisata berbarengan dengan promosi Pantai Bolihutuo yang makin digencarkan. Namun, seiring berputarnya waktu, ketenaran objek wisata pantai pertama di Boalemo mulai tidak diminati. Keeksotisan alamnya pun mulai tak terdengar. Meredup seiring bermunculan wisata-wisata pantai lainnya yang serupa. Padahal, setelah sekian lama beraktifitas, telah banyak fasilitas yang terbangun di sana sebagai sarana pendukung. Ada gazebo-gazebo di sepanjang bibir pantai yang disediakan secara gratis sebagai tempat bersantainya para wisatawan. Belasan cottage (pondok) dibangun untuk memenuhi keinginan wisatawan yang ingin menginap. Ada Jet Ski dan perlengkapan snorkeling juga diving buat yang senang dengan olahraga air sekaligus menyelam untuk menikmati keindahan di bawah laut. Ditambah lagi di sana dilengkapi Water Boom sebagai wahana bermain, juga ada fasilitas olahraga futsal dan badminton. Lengkap. Sangat lengkap. Para wisatawan tidak hanya disuguhi pesona pantai dengan keindahan alamnya, tapi juga fasilitas-fasilitas yang sangat memadai untuk bersantai ria bersama keluarga atau para sahabat.

Tiga hari terakhir, sejak tanggal 26 Februari sampai tanggal 28 Februari 2019, saya selalu menghabiskan sore di Pantai Bolihutuo yang terlihat seakan tidak lagi diminati oleh masyarakat Boalemo. Ada dua alasan yang mendasari saya ingin menghabiskan sore di sana. Pertama, karena itu merupakan pantai favorit saya untuk mengisi waktu libur saat masih sekolah dulu, baik sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah. Dan setelah sebelas tahun berlalu sejak lulus Madrasah Aliyah, hanya sekali saya menikmati liburan di Bolihutuo. Selebihnya, saya lebih banyak berada di tanah rantau. Dan saat ini, setelah memutuskan menetap di tanah kelahiran, Pantai Bolihutuo menjadi pilihan pertama untuk dikunjungi. Kedua, sepanjang informasi yang saya dapat selama ini, hanya Pantai Bolihutuo satu-satunya wisata pantai yang berada di Boalemo, di mana keberadaan dan kehadiraannya di tengah-tengah masyarakat, tidak memunculkan polemik. Simpel. Ya, hanya sesimpel itu alasan saya.

 

Sayang, kenyataan di hari pertama yang saya temukan di Pantai Bolihutuo, berbanding terbalik dengan harapan. Memang, senjanya tak pernah berubah. Selalu menampakkan keindahan yang tak terkira. Pinus-pinus tetap kokoh tumbuh di sepanjang pantai. Deburan ombak dan desiran pasir-pasir pantai yang halus, masih sama seperti dulu. Tapi, saya dibuat ternganga, Pantai Bolihutuo yang dulunya menjadi icon Boalemo, kini terlihat seperti hutan belantara yang menyeramkan. Rumput-rumput liar tumbuh sembarangan. Cottage-cottage sudah banyak yang tidak difungsikan. Gazebo-gazebo yang berada di sepanjang pantai banyak yang rusak, dan tak bisa lagi digunakan. Bangunan-bangunan yang dulu berdiri megah, kini layaknya rumah hantu. Jet ski terparkir di tepi pantai karena rusak. Banana boat menepi karena kunjungan sepi. Lapangan futsal, lapangan badminton, dan galeri ATM berubah menjadi bangunan mubazir karena ketiadaan pengunjung yang berminat bersantai ria di Pantai Bolihutuo.

Sore kedua di Pantai Bolihutuo, saya lebih dibuat ternganga tak percaya. Selain telah menjelma layaknya hutan belantara, saya temukan banyaknya sapi yang berkeliaran di sana. Otak saya pun mulai berpikir penuh tanya; “Apa iya, objek wisata pantai yang pertama di Boalemo, kini telah beralih fungsi menjadi ‘kebun binatang?’ Ah, ini tidak benar,” gerutu saya dalam hati yang tetap masih bertanya-tanya. Hingga senja pergi dan malam datang menghampiri, saya masih belum bisa percaya. Apa sebenarnya yang terjadi?

Sore ketiga dalam kunjungan saya di Pantai Bolihutuo. Hutan belantara masih ada. Sapi-sapi yang berkeliaran sekaligus kotoran-kotorannya, hari ini turut serta menghiasi pandangan saya sepanjang jalan tempat kendaraan berlalu lalang di area Pantai Bolihutuo. Parah. Ini bukan lagi ‘kebun binatang,’ tapi ini ‘kandang sapi.’ Sangat tidak masuk akal, Pantai Bolihutuo yang dulunya menjadi icon Boalemo, seakan tidak lagi mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Tak perlu berpikir dua kali, saya pun berinisiatif menghampiri beberapa orang yang terlihat sedang membersihkan area pantai. Setelah mengucapkan salam dan memperkenalkan diri sebagai pengunjung Pantai Bolihutuo yang berasal desa Modelomo, kecamatan Tilamuta, terjadi dialog antara saya dan mereka yang berkumpul di situ; “Ti Pak bakarja di sini?” “Ya,” jawabnya. “Ini sapi yang berkeliaran di sini sengaja ada kase biar?” “Salah seorang warga punya ini, pak.” “Iya, sapa punya?” “Ih, tako torang mo ba cumu nama.” “Baru pemerintah tidak tegur, atau arahkan Satpol PP untuk menangani ini?” “Kemarin waktu ada kunjungan Jelajah Wisata Sulawesi (JWS), sapi-sapi ini dorang kase pindah. Pas ti JWS so pulang, so datang kamari poli.” “Baru ti pak tidak bilang pa depe tuan. Apalagi ini sapi kan so beken kotor pantai.” “Ihh, tako torang, pak.” “Berapa orang yang bekerja di sini, pak?” “Ada sepuluh orang tenaga kontrak, dan satu orang PNS.” “Baru berapa luas lo Pantai Bolihutuo ini, pak?” “Sekitar 15 hektar, pak.” “Hah? Lima belas hektar baru yang bakase bersih ini tampa cuma 11 orang?” “Tingga so bagitu poli, pak,” katanya sambil tersenyum. “Yang mana yang PNS?” “Itu yang ada bapangkas rumput, pak.” Jawabnya sambil menunjuk ke arah seorang lelaki yang agak jauh dari tempat kami berbincang-bincang dan terlihat sibuk memangkas rumput. Awalnya, saya ingin menghampiri lelaki yang dimaksud. Tapi, niat itu saya urungkan, dan memutuskan untuk pulang saja. Tujuannya satu, saya ingin bertanya kebenaran apa yang saya lihat hari ini ke pada teman-teman aktivis dan wartawan yang ada di Tilamuta.

“Ini tiket retribusi kuliner buat yang jualan di dalam, hanya sekitar sepuluh lembar yang dibayar. Alasannya, jualan mereka sepi. Padahal, bayarnya itu hanya sabtu-minggu sebesar sepuluh ribu rupiah.
Bukan hanya itu, tempat-tempat yang awalnya dikhususkan buat jualan (kuliner) malah disulap dengan dibangun bangunan semi permanen dan dijadikan sebagai tempat tinggal. Harusnya tempat itu difungsikan untuk jualan, bukan malah difungsikan juga sebagai tempat tinggal. Makanya tidak heran, tempat kuliner terlihat kumuh. Dan juga yang tak tanggung-tanggung, aliran listrik mereka ambil dari area water boom.

“Informasi yang kita dapat dari sana, tidak ada sepeserpun anggaran biaya pemeliharaan untuk Pantai Bolihutuo. Sedangkan biaya operasionalnya, itu tidak lebih dari empat juta lima ratus rupiah selama setahun, yang berarti sebulan hanya tiga ratus tujuh puluh lima ribu. Dan itu sudah meliputi bensin buat pangkas rumput, bensin operasional kendaraan, dan perbaikan-perbaikan yang rusak.”
“Bukan cuma itu, bro. Biaya sewa Cottage berdasarkan Perda, semalam lima ratus ribu. Tapi, kenyataannya, dengan terpaksa harus rela dibayar di bawah lima ratus ribu, agar dapat memenuhi ‘tuntutan kebijakan’ Pemerintah Daerah, sebesar sembilan ratus juta, pendapatan yang harus dicapai tahun ini.”

“Bagaimana bisa dapat sembilan ratus juta, sedangkan kunjungan Jelajah Wisata Sulawesi (JWS) kemarin saja, ada instruksi dari atas, bahwa biaya retribusi untuk masuk area pantai, dan menginap di cottage, digratiskan semuanya.”

“Yang lebih parah, Jet Ski yang baru, untuk mengganti dua Jet Ski yang rusak dan tercatat di Dinas Pariwisata, itu malah diserahkan ke Pantai Ratu. Bahkan, peralatan untuk menyelam pun masih ada di sana. Pihak Pantai Ratu meminjam itu waktu pak Nelson datang mengunjungi Pantai Ratu, tapi sudah berbulan-bulan tidak dikembalikan. Jet Ski baru yang harusnya di Pantai Bolihutuo, malah diarahkan ke Pantai Ratu. Padahal, Jet Ski yang sekarang rusak di Bolihutuo, itu dikembalikan setelah rusak di Pantai Ratu.”

Itu beberapa komentar yang saya dapatkan sesaat setelah saya menanyakan tentang Pantai Bolihutuo ke pada beberapa teman-teman aktivis dan wartawan. Entah benar atau tidak yang mereka sampaikan, tapi yang jelas, ini gila. Benar-benar gila. Jadi, tidak heran mengapa Pantai Bolihutuo yang dulunya begitu sangat eksotis dengan kelengkapan yang memadai, kini menjelma bak hutan belantara yang menyeramkan. Sangat tidak masuk akal, kebersihan lahan sebesar 15 hektar ini, hanya jadi tanggung jawab sebelas orang. Dan terlihat seperti “kandang sapi” yang tak pernah enak dipandang.

Biarlah wisata pantai Pulo Cinta yang dikelola pihak swasta dan menjadi tempat wisata kalangan pejabat elite yang kaya raya. Yang berswafoto saja dengan latar belakang lautan luas, harus membayar seratus ribu rupiah. Biarlah Pantai Ratu sebagai tempat wisata dan menjadi Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) yang tata kelolanya diserahkan ke Desa. Tapi, Pantai Bolihutuo, objek wisata pantai yang pertama di Kabupaten Boalemo, yang pernah menjadi icon Boalemo. Tempat berliburnya semua lapisan masyarakat. Baik dari masyarakat dengan ekonomi melimpah ruah atau menengah ke bawah. Yang kaya raya atau miskin jelata, yang tanggung jawab penuhnya ada di tangan pemerintah Kabupaten Boalemo, malah ‘dituntut’ agar pendapatan selama setahun mencapai sembilan ratus juta, tapi nihil perhatian pemerintah daerah.

Pulo Cinta telah berhasil menjadi tempat wisata yang tersohor ke seluruh dunia. Pantai Ratu –meskipun tak luput dari beragam masalah— tetap masuk dalam sepuluh besar tempat wisata nasional. Lalu, bagaimana dengan Pantai Bolihutuo? Sang kakak yang dianak tirikan dan dibiarkan berdiri dan berkembang dengan terlunta-lunta. Semua asetnya diambil alih atas ‘persetujuan’ pemerintah. Seakan tidak lagi dipedulikan. Sungguh, tak ada lagi kalimat yang dapat diucapkan, selain mengatakan “Pantai Bolihutuo yang malang; wisata pantai pertama di Boalemo yang kini telah disulap menjadi ‘kandang sapi’ karena ‘sim salabim kebijakan acak-kadut pemerintah kita’. (***) 

 

Penulis : Man Muhammad ( Anak Muda Boalemo, juga Penikmat Kopi Hitam) 

Editor : MN Fadli Thalib

 

 603 total views,  3 views today

Facebook Comments