Fakta News
Ultimate magazine theme for WordPress.

Sepenggal Cerita dari Desa Buahulo

Oleh Man Muhammad (penulis dan pecinta kopi)

Faktanews.com (Tajuk), Adzan Ashar baru saja dikumandangkan oleh Pak Tromol, lelaki paruh baya yang sudah hampir puluhan tahun mengabdi menjadi marbot di mushalla desa Buahulo. Hanya ada satu dua orang lelaki yang tidak lagi muda dan segerombolan anak-anak kecil terlihat melangkahkan kakinya menuju mushalla. Selebihnya, masih terus sibuk dengan urusan masing-masing yang mungkin mereka juga tidak mengerti apa yang mereka sibukkan. 

Seperti biasanya, selepas shalat Ashar anak-anak tidak langsung balik ke rumah masing-masing. Mereka masih menunggu pak Tromol untuk mengajarkan huruf-huruf hijaiyah agar nantinya bisa membaca Alquran dengan baik dan benar. Tetapi, berbeda dengan yang sudah-sudah, hari itu pak Tromol tidak mengajarkan Alquran, melainkan berbagi kisah para pemimpin-pemimpin di masa kejayaan Islam dulu.

“Jadi begini anak-anak” kata pak Tromol memulai ceritanya karena melihat tingkah anak-anak yang sudah sangat antusias menunggu dan duduk berjejer rapi di hadapannya.

Man Muhammad : (Penulis dan Pecinta Kopi)

 

Dulu, di zaman khalifah Umar pernah terjadi kemarau panjang yang tak berkesudahan. Meskipun sudah berulang kali berdoa meminta agar hujan diturunkan, tetap saja hujan tak kunjung turun. Padang pasir yang tandus makin bertambah tandus. Ternak-ternak banyak yang mati kehausan. Kekeringan memusnahkan segalanya. Onta yang tinggal di gurun tak lagi menghasilkan susu. Korban berjatuhan, kematian di mana-mana.

Menghadapi hal ini, Umar bin Khattab yang saat itu menjadi khalifah, kebingungan. Dosa apa yang telah diperbuat kaum muslimin sehingga Allah tidak memerintahkan malaikat Mikail untuk menurunkan hujan. Akhirnya, dikumpulkanlah semua kaum muslimin untuk melakukan shalat istisqa’ berjamaah. Lalu Umar berkhutbah dan memerintahkan kepada mereka untuk menyambung kembali tali silaturrahim, dan barang siapa yang enggan untuk menyambung silaturrahim, silahkan keluar dari barisah-barisan kaum muslimin yang akan melaksanakan shalat, karena bisa jadi putusnya silaturrahim adalah musabab hujan tidak diturunkan.

Setelah itu, dia memanggil Abbas bin Abdul Muthallib, paman Rasulullah Saw, untuk berdoa. Dan tak lama, awan pun bergumpal, hujan turun dengan deras.

Hal serupa pernah terjadi jauh di zaman nabi Musa As. Hujan yang tak kunjung turun membuat nabi Musa kewalahan. Setiap doa-doa yang dipanjatkan selalu berakhir dengan jawaban penolakan dari Tuhan. Nabi Musa pun bertanya kepada Allah, “Ya Allah, ada apa gerangan sehingga doa-doa kami tidak dikabulkan?” Allah pun memberi jawaban lewat wahyunya kepada Musa “Di antara umatmu ini ada salah seorang yang bermaksiat kepadaku selama empat puluh tahun lamanya. Dan sampai saat ini dia tidak pernah bertobat. ” Mendapatkan jawaban dari Allah, Musa lalu berteriak dengan sangat marah, “Hai orang yang sudah bermaksiat, keluarlah engkau dari barisan kami. Sungguh, Allah tidak menurunkan hujan karena dirimu yang tak tahu diri.” Lelaki yang dimaksud tentu tidak ingin keluar dari barisan, karena jika dia keluar itu hanya akan membuka aibnya sendiri. Saat itu, dia pun memohon ampun kepada Allah dengan sebenar-benarnya permohonan ampun. Dan tak lama, atas perintah Allah, hujan turun dengan sangat deras. Musa yang tak melihat ada seorang pun yang keluar dari barisan menjadi penasaran. Dia pun bertanya kepada Allah, “Ya Allah, kenapa hujan sudah diturunkan sedangkan tidak ada seorang pun dari golongan kami yang keluar dari barisan?” “dia sudah bertobat, dan aku memberikan ampunan terhadapnya.” “Ya Allah, bolehkah aku tahu siapa orang itu?” “Wahai Musa, selama empat puluh tahun Aku tutupi aibnya padahal dia melakukan pengingkaran terhadapKu. Dan sekarang, setelah dia bertobat apa Aku harus membuka aib-aibnya?”

“Pak Tromol, hari ini kan sudah bukan zamannya Umar bin Khattab apalagi Nabi Musa. Kita tentu tidak tahu bagaimana cara berdialog dengan Allah agar hujan bisa turun membasahi desa kita. Bukan hanya hujan yang tak turun-turun, tapi juga hama ulat mewabahi jagung-jagung orang tua kita. Bukan hanya kekeringan, gagal panen pun menimpa desa kita, pak. ”Tiba-tiba Wulodu, anak berusia sembilan tahun yang duduk di deretan paling ujung, memotong kisah yang disampaikan Pak Tromol. “Iya, Pak. Hulodu benar. Saya baca di internet, kata pegawai pemerintah, jagung-jagung di daerah kita itu aman semuanya, sudah disemprot obat anti hama ulat. Padahal, batang hidungnya tidak pernah kelihatan di sini. Dan faktanya jagung-jagung yang ditanami orang tua kita semuanya mati dimakan ulat. Kok, orang suka bohong bisa jadi pejabat ya, Pak?” Tambah Milu untuk menguatkan argumen dan pertanyaan Wulodu yang namanya sering diplesetkan jadi Hulodu oleh teman-teman sebayanya. “Bukan hanya itu, Pak. Ayah dan ibu saya juga terkena getahnya. Mereka berdua dirumahkan, artinya diputuskan kontrak kerjanya. Padahal, ayah dan ibu sudah mengajar sejak 20 tahun lalu, sebelum saya dilahirkan. Mereka setiap pagi harus naik rakit menyebrangi sungai, untuk mengajar anak-anak yang berada di ujung desa Buahulo. Yang saya dengar, alasan pemerintah kita untuk meminimalisir anggaran pengeluaran pemerintah desa kita. Tapi, kenapa di waktu yang bersamaan mereka membeli mobil-mobil mewah dengan harga ratusan juta rupiah, sedangkan mobil lama masih bagus. Bukannya ini pemborosan yang tidak ada gunanya ya, Pak? Toh, mobil baru juga hanya digunakan seputaran desa Buahulo. Paling jauh mungkin lintas provinsi. Apa ini bisa disebut azab juga ya? Atau?” protes Tuwili, anak laki-laki umur empat belas tahun dan yang paling tua di antara mereka.

Tameya yang terkenal pendiam, tiba-tiba bersuara, “seperti yang pernah Pak Tromol katakan tempo hari, bahwa Nabi kita, Muhammad Saw tidak suka terhadap seseorang yang berlebihan dalam memuji. Bahkan, Nabi Saw menyuruh sahabat-sahabatnya untuk melemparkan pasir ke wajah orang yang suka sekali memuji. Jadi begini maksud saya, Pak. Mungkin pujian itu benar adanya, tapi kan kalau berlebihan jadi gak benar. Apalagi kalau ditambahkan dengan yang gak benar, tentu semakin gak benar dong, Pak. Contohnya, seperti yang dikatakan Hulodu tadi, eh Wulodu maksud saya, katanya jagung aman dari hama, nyatanya jagung kita kena hama, dan yang berseliweran di media, jagung kita baik-baik saja. Atau, yang dikatakan Tuwili barusan, alasan pemerintah untuk memangkas anggaran pengeluaran, kenyataannya mau beli mobil baru harga ratusan juta rupiah, dan faktanya media membela mati-matian dengan pujian yang dilebih-lebihkan. Jangan-jangan, ini juga azab untuk desa kita ya?”

“Benar juga yaa. Dulu, ayah dan ibu saya dijanjikan dengan gaji yang akan dinaikkan lima puluh persen. Kenyataannya, malah diberhentikan dari pekerjaannya seratus persen. Kan ini kamfreeet, Pak Tromol.” Tuwili kembali bersuara dengan sedikit agak emosi.

“Sudah-sudah, tak perlu diperpanjang, hari semakin sore” kata Pak Tromol. “Tapi, sebelum mengakhirinya, bapak ingin menyimpulkan beberapa hal dari perkumpulan kita sore ini. Pertama, kita berdoalah terus kepada Allah, agar desa kita bisa disejahterakan, dijauhkan dari malapetaka, dan hama ulat yang menyerang jagung-jagung, agar bisa segera diatasi oleh pemerintah. Kedua, agama mengajarkan, jika berjanji harus ditepati. Jadi, apa pun yang pernah kalian janjikan harus ditunaikan, walau harus melewati berbagai rintangan. Ketiga, boleh memberikan pujian, asalkan tidak berlebihan, sesuai dengan kenyataan, dan tidak mengandung kebohongan. Karena itu hanya akan menimbulkan fitnah dan kekacauan. Keempat, kelak nanti kalian akan tahu, mungkin belum saat ini. Manusia itu tidak lepas dari tiga kebutuhan yang harus dipenuhi, kebutuhan perut, kebutuhan sejengkal di atas perut, dan kebutuhan sejengkal di bawah perut. Sekarang, mungkin kalian masih sibuk-sibuknya mengurusi perut, minta jajan, beli makanan, berebutan makanan dengan teman-teman.

Nanti akan tiba saatnya, kalian akan memikirkan kebutuhan sejengkal di bawah perut, dan harus memenuhi kebutuhan sejengkal di atas perut. Pak Tromol ingin kalian ingat baik-baik yaa, di masa mendatang, kekacauan-kekacauan yang sering terjadi saat ini dan sampai seterusnya tidak lepas dari tiga kebutuhan yang tidak dipenuhi. Makanya, jangan terus mengurusi kebutuhan perut, kalian akan jadi rakus, segala cara akan kalian lakukan agar dapatkan itu.

Jilat menjilat, saling menipu, itu karena tidak terpenuhinya urusan perut. Jangan juga terlalu mengedepankan urusan kebutuhan sejengkal di bawah perut, karena pasti kalian akan banyak mendapatkan masalah. Penuhilah kebutuhan sejengkal di atas perut. Kebutuhan hati yang terus mendekatkan diri kepada Ilahi Rabbi. Agar nantinya, dua kebutuhan lainnya bisa berjalan sesuai kehendak hati yang bernurani.” Tutup pak Tromol mengakhiri pembicaraan sore itu.

Anak-anak pun bergegas, tetapi tiba-tiba pak Tromol kembali bersuara dan sedikit berteriak memanggil anak-anak yang sudah bubar, “bapak baru ingat, 20 tahun silam sejak bapak sampai di desa Buahulo ini, karena diutus oleh organisasi bapak Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) untuk menghidupkan Mushalla kita, mengajarkan anak-anak baca tulis Alquran. Dan hari ini, tepat tanggal 5 Februari 2020.

Tanggal yang sama dengan hari lahirnya Bapak Lafran Pane, 5 Februari 1922, dan tanggal yang sama pula bersama teman-temannya, dia dirikan HMI, 5 Februari 1947, 73 tahun lalu. Pak Lafran Pane itu, adalah Pahlawan Nasional, yang selalu menolak untuk diberikan jabatan. Baginya ;

 

“ kedudukan itu untuk diamanahkan kepada yang lebih mampu, bukan untuk diperebutkan bagai piala. Agar ada kemajuan, ada progres, agar harkat martabat bangsa ini naik, agar hilang kolusi, dan korupsi. Kekuasaan bukan alat untuk memperkaya diri sendiri, tapi untuk memperkaya bangsa. Inilah yang menurut Pak Lafran sebuah kebiasaan yang benar. Bukan membenarkan yang biasa. Kita harus merdeka. Yang berarti kita harus berani jujur dan sederhana di tengah riuh rendah dunia. Merdeka sejak hati, Islam sejak nurani. (Lafran Pane, 1922-1991).

“Jangan lupa yaa, selepas Magrib kita yasinan dan tahlilan untuk mendoakan para pahlawan yang telah mendahului kita. Dan semoga, akan lahir Lafran Pane-Lafran Pane baru dari desa ini.” Dan serentak anak-anak itu berteriak mengaminkan. Aaaamiiiinnnnn

 

Editor : MN Fadli Thalib

 293 total views,  1 views today

Facebook Comments