Fakta News
Ultimate magazine theme for WordPress.

Dilema Pendidikan Dan Para Pemangku Kebijakan di Kabupaten Boalemo


لو كان نور العلم يدرك بالمنى

ما كان يبقى فى البرية جاهل

إجهد ولا تكسل ولا تك غافلا

فندامة العقبى لمن يتكاسل

 ” Kalau ilmu hanya bisa dicapai dengan angan-angan

Maka tidak ada orang bodoh di dunia ini

Bersungguh-sungguhlah, jangan lalai dan jangan malas

Karena tidak ada kesuksesan buat orang-orang yang malas”

***

Faktanews.com (Tajuk) –  Alkisah di zaman kekuasaan Abbasiyah, Harun ar Rasyid yang saat itu menjabat sebagai khalifah pernah memerintahkan utusannya memanggil dan menjemput Imam Malik yang tinggal di Madinah untuk datang ke Istana Raja di Baghdad agar dapat mengajarkan putra-putranya tentang ilmu pengetahuan. Setelah para utusan khalifah tiba di kediaman Imam Malik dan mengutarakan maksud dan tujuan kedatangan mereka, Imam Malik dengan tegas menolak perintah khalifah disusul dengan sebuah jawaban; “Ilmu itu mulia dan harus dimuliakan. Jika kamu memuliakan ilmu maka kamu akan mulia karena ilmu. Sebaliknya, jika kamu menghinakannya, maka kamu jadi orang hina sedangkan ilmu tetap mulia. Dengan demikian, Ilmu harusnya didatangi oleh para pencarinya, bukan ilmu yang harus mendatangi mereka.”Alhasil, meskipun Imam Malik saat itu dikenal dekat dengan penguasa Abbasiah, tapi tetap menjaga marwah ilmu pengetahuan dengan menolak perintah khalifah meskipun diiming-imingi dengan uang ribuan dinar.

Kisah ini memang sudah sangat masyhur dan terdengar di mana-mana. Selaras dengan syair yang saya sudah saya tuliskan di atas, bahwa tidak akan pernah ada pengetahuan bagi orang yang malas untuk belajar. Yang berarti tidak akan pernah ada kecerdasan dan kesuksesan terhadap orang-orang yang lalai dan tidak bersungguh-sungguh dalam belajar. Sama halnya tidak akan ada rasa kenyang bagi orang yang mengkhayalkan makan-makanan yang enak di sebuah restoran mewah untuk menghilangkan rasa laparnya.

Lalu bagaimana nasib pendidikan kita hari ini di Boalemo? Sebelum menyasar lebih lanjut tentang kondisi pendidikan yang ada di Boalemo, sejenak kita menoleh ke belakang akan sejarah panjang bangsa ini yang digerakkan oleh kaum muda terdidik meski tidak mengecam pendidikan secara formal. Meskipun tidak lepas dengan tuntutan zaman saat itu, tapi kaum muda berhasilmemobilisasi masa dengan berbagai gerakan untuk kemajuan Indonesia. Sejarah bangsa ini telah mencatat bahwa setiap perubahan yang terjadi pada suatu bangsa selalu dipelopori oleh kaum muda yang berpendidikan, misalnya: Generasi Pelopor yang menghasilkan Sumpah Pemuda 1928. Generasi Pendobrak yang melahirkan Proklamasi 1945. Generasi Era Orde Baru di 1965, dan Generasi Reformasi di tahun 1998.

Hari-hari belakangan pasca kemerdekaan dan reformasi, dunia pendidikan di Indonesia seakan mulai ditanggalkan. Banyak yang lebih cenderung menikmati hal-hal yang bersifat kepentingan. Memang benar, banyak orang-orang berpendidikan namun, di balik keberhasilan dunia pendidikan sangat sedikit yang terlahir dari rahim pendidikan sebagai orang-orang yang terdidik. Inilah mengapa, tidak sedikit kita temukan dalam realitas kita hari ini berbanding terbalik antara jenjang pendidikan tinggi yang diembannya dengan laku keseharian. Pendidikan memang tinggi, tapi kualitas itu beriringan dengan ‘kegilaan’ rasa ingin dihormati yang semakin jadi.

Inilah mengapa saya secara subjektif menilai, bahwa hari ini dilema pendidikan telah masuk dalam kategori memprihatinkan, karena banyak dari para pemangku kebijakan yang berpendidikan namun nihil dalam hal terdidik. Terkhusus untuk Boalemo tentunya. Di mana banyak hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan nihil perhatian dari pemerintah sebagai pemangku kebijakan.

Tingkatkan kemampuan, jangan dulu cari perhatian. Kalau sudah ada kemampuan, pasti akan diperhatikan.Paling tidak begini seharusnya proses bagi orang-orang yang mengenyam pendidikan dan para pemangku kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan. Jangan dibalik, cari perhatian dulu walau tanpa kemampuan. Kalau sudah diperhatikan kemampuan tak lagi diperlukan.Karena, jika di Boalemo hal kedua ini didahulukan, yang terjadi malah kehancuran. Jilat menjilat tak terelakkan. Bisa jadi pendidikan pun dilacurkan. Dan daerah tercinta jadi korban hingga luluh lantak berantakan.

Sakitnya lagi, jika kita lihat secara seksama yang terjadi hari ini di Indonesia –khususnya Boalemo— masalah pendidikan menjadi persoalan besar yang harus segera diselesaikan. Kurikulum yang selalu berganti dan kebijakan-kebijakan yang tak tentu arah, membuat pendidikan kita sangat terasa sekali ‘amburadulnya.’ Memang, terlalu subjektif dengan mengatakan demikian. Namun, melihat dari survei-survei yang dilakukan oleh lembaga-lembaga yang konsen terhadap pendidikan, begitu terlihat jelas bagaimana pendidikan kita sangat tertinggal. Belum lagi mengorek permasalahan anak-anak yang wajib mengenyam pendidikan malah lebih banyak terlihat sebagai pengangguran dengan berperan aktif menjadi pengamen jalanan.

Beragam permasalahan di dunia pendidikan, tentunya berimbas juga terhadap dunia pendidikan di Provinsi Gorontalo, dan Kabupaten Boalemo khususnya. Hal ini dikuatkan dengan data dari Pusat Penelitian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Puspendik Kemendikbud) yang dalam risetnya mengatakan bahwa para siswa sekolah dasar di Gorontalo memiliki minat yang sangat rendah terhadap literasi. Riset yang dilakukan oleh Indonesian National Assesment Program (INAP) yang juga menyoroti literasi membaca siswa sekolah dasar provinsi Gorontalo menemukan 74.16% dari 46.83% minat membaca anak SD dalam skala Nasional, itu milik Gorontalo. Data riset ini tentunya sangat mencengankan kita generasi masa depan yang dimiliki Gorontalo. Ternyata pendidikan kita sangat memprihatinkan dan patut diperhatikan. Karena 2/3 dari kurangnya minat membaca nasional, itu di sumbangkan oleh Provinsi Gorontalo.

Skala 74.16 % minat literasi Provinsi Gorontalo yang terdiri dari 5 kabupaten dan 1 kota, sudah pasti menyertakan Kabupaten Boalemo yang termasuk dalam kurangnya minat tersebut. Okelah kita bagi kurangnya minat literasi setiap kabupaten dan satu kota itu dengan sama rata. Yang berarti masing-masing kabupaten-kota menyumbangkan 12.36 % dalam kurangnya minat membaca di Provinsi Gorontalo. Itu baru minat membaca anak-anak sekolah dasar dan dibagi secara kotor. Belum tentu Boalemo menjadi menjadi penyumbang terbanyak tapi, sudah pasti tetap menjadi penyumbang dalam hal ini.Lalu, bagaimana jika hal tersebut –melek literasi— dinilai dari keseluruhan masyarakat Gorontalo? Bagaimana dengan anak-anak yang putus sekolah karena tingginya biaya pendidikan? Bagaimana dengan Kabupaten Boalemo? Menyumbang berapa persen lagi terhadap kemerosotan dalam dunia pendidikan? Tak perlu dijawab. Yang jelas, masalah pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama.

Memang, benar apa yang dikatakan oleh Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia; kita harusnya segera menyadari bahwa; kita memasuki era di mana gelar tidak menjamin kompetensi. Era di mana kelulusan tidak menjamin kesiapan berkarya. Era di mana akreditas tidak menjamin mutu. Tapi, apakah dengan itu pendidikan yang menghasilkan orang-orang terdidik tidak lagi jadi hal yang patut diprioritaskan?

Baru-baru ini tersiar kabar bahwa bapak Bupati Boalemo berhasil melewati sidang proposal skripsinya dengan nilai yang sangat memuaskan. Tak tanggung-tanggung nilai yang berhasil dicapai dalam sidang tersebut 95.2 yang berarti masuk kategori cumlaude. Tidak peduli dengan hingar-bingar pembicaraan yang terjadi perihal sidang tersebut, bagi saya keberhasilan yang dicapai oleh bapak Darwis Moridu sebagai bupati Boalemo menjadi angin segar khususnya dalam peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Boalemo yang sampai saat ini masih jauh dari perhatian pemerintah. Namun, jika ternyata yang terjadi sama saja dengan sebelum-sebelumnya, yaitu dengan tidak menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama daerah lewat pemberdayaan sumber daya manusia, maka kemajuan dan perkembangan Boalemo hanya sekedar cerita-cerita khayalan yang beredar luas di media masa. (***)

Oleh : Man Muhammad – Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Editor : Jeffry As. Rumampuk

 626 total views

Facebook Comments