Fakta News
Ultimate magazine theme for WordPress.

Boalemo Dalam Angka, Fatamorgana Program Yang Pro Rakyat

Faktanews.com (Tajuk) – Saat ini, ramai nian informasi khalayak yang menyebutkan hasil rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Boalemo yang menunjukan angka kemiskinan yang katanya menurun drastis. Yang anehnya, rangkaian angka itu oleh sebahagian orang pun dipuja puji layaknya para dewa dewi yang memuji ketokohan Dewa Zeus (ilustrasi Dewa Yang sangat dipuja dalam mitologi Yunani).

Kebenaran ilmiah yang diserukan serentak oleh para pimpinan OPD yang sejatinya dijadikan dasar sebagai prestasi Pemerintahan Kabupaten Boalemo pun seakan benar berdasarkan rilis secarik hasil tugas, yang mungkin saja tidak pada fakta yang sebenarnya.

Sumber Badan Pusat Statistik

Angka kemiskinan di Kabupaten Boalemo dari Data Badan Pusat Statistik Kabupaten Boalemo, sejak tahun 2017 hingga tahun 2019 mengalami penurunan yang cukup signifikan. Bagaiman tidak, angka kemiskinan di tahun 2017 yang berada di posisi 21.85 persen, berhasil di tekan hingga turun mencapai 18.87 persen di tahun 2019 ini. Tentu data ini, secara luas berhasil menunjukan bahwa kabupaten Boalemo dibawah kepemimpinan H.Darwis Moridu dan Ir. Anas Jusuf selama 3 (tiga) tahun terakhir berhasil Menekan angka kemiskinan di Boalemo.

Namun hal tersebut, de facto nya belum bisa menjadi acuan karena hal itu menggambarkan bahwa terjadinya kesenjangan sosial di daerah berslogan Boalemo Damai Bertasbih. Pada hitungan yang sederhana, melihat hasil Survei Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di Provinsi Gorontalo berada di angka 2.098.000 rupiah, maka perhitungan BPS sangat tidak manusiawi dengan menentukan standar Garis Kemiskinan (GK) di Boalemo di angka Rp.368.860 rupiah perkapita/perbulan.

Tentu, dari hasil itu menunjukan bahwa pengeluaran per bulan dari setiap manusia didaerah yang pernah dipimpin Alm. H. Iwan Bokings itu dibawah dari standar BPS Rp.368.860, tentunya masuk dalam kategori miskin menurut BPS. jika kita mencoba dengan formulasi sederhana, pada Satu KK di boalemo, ada 4 (Empat) orang dengan komposisi Makan mencapai 2 (Dua) kali dalam sehari dengan harga 10.000 x 4 = 40.000 x 30 hari = Rp.1.200.000,- . Nah, Itu baru untuk biaya makan dalam sebulan.

Dari hasil simulasi diatas, tentu menjadi pertanyaan ketika dalam rilis BPS yang menunjukan bahwa kemiskinan di Boalemo itu menurun. Hal ini tentu menunjukan bahwa standar miskin yang digunakan oleh BPS sangat berbanding jauh dengan kebutuhan masyarakat. Sebab baru menghitung biaya kebutuhan untuk makan pada satu KK mencapai angka Rp. 1.200.000,-, belum biaya lain – lain.

Jika melirik program pro rakyat milik Pemerintahan Damai yang dengan sengaja digaungkan semenjak prosesi Pilkada 2017 silam, sepatutnya wajib digenjot secara luas demi menekan angka kemiskinan yang sebenarnya dan dengan tidak merujuk hasil secarik kertas milik lembaga dambaan para dewa dewi di kerajaan langit milik Dewa Zeus.

Hal ini wajib menjadi perhatian serius dari Pemerintah Daerah Kabupaten Boalemo, sebab jika melihat hasil pengesahan APBD 2020 untuk Kabupaten ketiga di Bumi Serambi Madinah ini, program pro rakyat yang saat ini didukung oleh Dinas Pertanian dengan menciptakan program ratusan jalan tani dan akan disebarkan di hampir seluruh Desa itu pun pasti menuai harapan yang nyata. Dengan angka yang sangat fantastis, harusnya dapat mengangkat jargon milik Bupati Darwis Moridu sebagai Panglima Petani.

Rp. 71 Miliar, bukan angka yang sedikit jika dibandingkan dengan anggaran pendidikan dan kesehatan yang senantiasa juga wajib diperhatikan. Menjadi pertanyaan, apakah dengan program pro rakyat itu sudah bisa menjawab kebutuhan rakyat yang sejatinya mayoritas adalah petani…???

Pada prinsipnya, hasil data kemiskinan yang sudah menurun dari BPS tentu juga harus senada dengan hasil program yang katanya pro rakyat itu. Dikhawatirkan angka itu merupakan fatamorgana yang sedap dipandang dan kemudian menjadi dasar penilaian prestasi kerajaan langit milik si Dewa Zeus yang mengkhawatirkan. Dasar penilaian lembaga Negara seperti BPS pun perlu digugat metode penilaiannya, karena jangan sampai hanya menyenangkan para dewa dewi berikut si Zeus nya.

Kekhawatiran mendasar juga akan melirik jargon Bupati Boalemo yang katanya adalah Panglima Petani, hingga pada akhirnya tidak mampu menjawab persoalan mendasar rakyat di Kabupaten Boalemo.

“ Ya Allah Ya Kareem, berikanlah kepada pemimpin kami kesehatan dan kelapangan berfikir agar mampu menjalankan amanahMU dengan seadil-adilnya. Ya Allah Ya Maha Kuasa, Bimbinglah Bupati kami agar mampu menegakkan hukumMU yang adil dan membawa kebaikan bagi seluruh rakyatnya. Ya Allah Ya Maha Hebat, Engkaulah sumber segala kekuasaan dan Engkau pula yang mengangkat mereka menjadi pemimpin kami, maka jadikanlah kami hambamu yang selalu sabar.. Amin YRA. (***)

Editor : M.N. Fadhly Thalib

304 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Facebook Comments