Fakta News
Ultimate magazine theme for WordPress.

Rumah Terancam Roboh, Sumur Tak Berfungsi

Potret Warga Transmigran di Sandalan (bag. 1)

Faktanews.com (Daerah) – Kabupaten Pohuwato, Nasib masyarakat Transmigrasi di wilayah Sandalan, Desa Panca Karsa I, Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato sungguh memprihatinkan. Baru 3 tahun ditempati, kondisi rumah-rumah mereka kini mulai rusak, bahkan ada yang sudah mau roboh. Mereka pun hanya bisa pasrah dengan keadaan.

Aliansi Jurnalis Pohuwato – TALUDITI

Jalan terjal bebatuan yang begitu ekstrim mengiringi perjalanan menuju ke Dusun Sandalan, Desa Panca Karsa I, Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato. Dari jalan aspal, sekitar 4-5 Kilometer jarak yang harus ditempuh menuju ke wilayah Transmigrasi itu.

Di tengah perjalanan bahkan tak sedikit ditemui pengendara yang mengalami kesulitan untuk menembus akses ini. Ada yang terpaksa harus memilih untuk mengistirahatkan kendaraannya sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Ada lebih dari 5 tanjakan maut yang harus dilewati dengan sangat hati-hati dan penuh konsentrasi agar tidak mengalami hal-hal yang tak diinginkan.

foto : Sandalan
capt : Kondisi rumah masyarakat Transmigrasi Sandalan, Kecamatan Taluditi, yang sangat memperihatinkan dan terancam sudah mau roboh. (foto : Aliansi Jurnalis Pohuwato)

Setelah satu jam melewati medan yang cukup memacu adrenalin itu, akhirnya Tim Investigasi Aliansi Jurnalis Pohuwato sampailah pada lokasi tujuan.

Dari atas bukit di akhir tanjakkan, nampak kawasan Transmigrasi Sandalan yang didiami oleh ratusan masyarakat dari berbagai penjuru tanah air itu. Terlihat rumah-rumah berjejeran yang dikelilingi gunung-gunung dengan pemandangan sore hari yang asri, alami, sejuk, dan jauh dari hingar-bingar perkotaan.

Dibalik keindahan panoramanya tersebut, tak disangka menyimpan berbagai kegelisahan, kekecewaan bahkan kemarahan warga Sandalan.

Dimana suara amarah itu berulang kali terdengar sampai ke wilayah ibu kota Pohuwato. Hal inilah yang menarik bagi Kami seluruh Jurnalis di Kabupaten Pohuwato untuk melihat langsung kondisi mereka.

Bak gayung bersambut, baru saja memasuki kawasan permukiman, dan memastikan bahwa itu benar merupakan kawasan Transmigrasi Sandalan, masyarakat setempat langsung memberikan respon dengan nada-nada kekecewaan.

Insert : Kondisi sumur yang dibangun khusus untuk masyarakat Transmigrasi Sandalan namun hingga kini tak bisa difungsikan. (foto :Aliansi Jurnalis Pohuwato )

“Iya benar pak sudah inilah wilayah Sandalan yang tidak lagi diperhatikan itu. Kami masuk dalam tahap I. Di sini wilayah tahap I, yang rumahnya paling jelek itulah yang tahap I,” lontar seorang warga dengan nada kesal.

Kalimat itu terucap karena memang ada perbedaan jauh antara masyarakat penempatan tahap I dengan yang pada tahap II.

Dimana pada tahap I yakni di 2016 ada 100 unit rumah yang dibangun tanpa plafon serta dinding yang tidak diplester. Sementara pada tahap II ada 40 unit rumah yang dibangun pada tahun 2018 nampak lebih memadai, karena sudah dilengkapi plafon, dinding yang diplester serta berlantai keramik.

Perhatian sejumlah awak media ini lebih tertuju pada 100 KK yang menempati rumah yang dibangun pada tahap I. Bukan hanya karena pada tahap II rumahnya sudah lebih bagus.

Akan tetapi kondisi 100 unit rumah yang dibangun dengan anggaran Milyaran Rupiah ini begitu memprihatinkan. Beberapa bagian rumah sudah terbelah, bahkan ada yang sudah mau roboh dan tinggal ditopang dengan kayu.

Tak hanya rumahnya, sebanyak 50 sumur yang dibangun dengan anggaran ratusan juta rupiah nampak seperti sumur-sumur tua berumur puluhan tahun.

Konon katanya sumur-sumur ini tidak pernah digunakan sejak pertama kali dibangun, karena tak ada air.

“Terpaksa kami harus pakai air galon isi ulang pak atau harus ambil air di lahan (kebun). Di tambah lagi musim kemarau saat ini lebih susah air pak,” ujar Rahmat (45) salah satu warga.

Basri (35) warga transmigran asal Nusa Tenggara Barat (NTB) mengaku begitu resah dengan kondisi rumah yang mereka tinggali. Mengingat rumah tersebut baru 3 tahun namun kondisinya sudah mulai rusak.

“Bukan hanya rumah saya saja pak. Kondisi rumah lainnya khususnnya yang tahap satu rata-rata begini pak. Setiap hari kami dihantui rasa takut dengan kondisi rumah sudah mau roboh. Semoga ini menjadi perhatian pemerintah,” harapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Nakertrans Pohuwato, Mohammad R. Laisa, saat dikonfirmasi mengatakan pihaknya tengah mengupayakan untuk memperbaiki kondisi rumah-rumah tersebut. Dengan berkoordinasi dengan pemerintah pusat, mengingat bahwa ini merupakan program dari Kementerian Transmigrasi.

“Kami sudah laporkan ke pusat, dan kami pun sudah mengusulkan untuk perbaikan dan peningkatan kualitas rumah. Insya Allah secepatnya kondisi ini bisa segera tertangani,” pungkasnya. (bersambung)

 

Editor : MA – RL – FM – JR – BG – JD

308 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Facebook Comments