Fakta News
Ultimate magazine theme for WordPress.

Tak Ada Yang Bisa Gantikan Syarif..???

Oleh : Jhojo Rumampuk

 

Faktanews.com (Opini) – Kabupaten Pohuwato, Berbagai macam opini menebar diseantero Kabupaten yang berjulukan Bumi Panua, tentang isu yang mengatakan bahwa tidak adanya kader yang dapat menggantikan Syarif Mbuinga sebagai DM 1 D di Bumi Panua

Tentu ada keterkaitan dengan Memilih dan mempersiapkan siapa kader terbaik di Bumi Panua yang diharapkan mampu menjadi penerus serta menggantikan Syarif Mbuinga sebagai Bupati terbaik di Barat Gorontalo saat ini, sehingganya sosok yang kerap disapa Pasisa mulai mencoba untuk melihat keuletan, kemandirian dan kesabaran setiap kader yang tergabung pada Partai yang berlambangkan Pohon Beringin ini.

Hal ini bukan tentang melepaskan tanggung jawab sebagai seorang Pemimpin, akan tetapi sebagai pembelajaran terhadap setiap kader serta pemberian pemahaman bahwa saat ini tidak ada yang dispecialkan pada kontestasi Pemilihan Legislatif yang tinggal beberapa bulan lagi.

Dimana harapan terbesar SM pasca lahirnya pemimpin baru itu dapat menjadi sosok panutan serta mampu mengabdikan dirinya untuk kesejahteraan masyarakat, membebaskan rakyatnya dari belitan kemiskinan, , pengangguran dan dapat menyuarakan serta menyelesaikan tangisan hati rakyatnya,  tentunya akan melahirkan upaya kongkrit penanggulangan terhadap meruaknya ketidakadilan sebagai indikator ketakwaan seorang pemimpin.

Sehingga para pemimpin harus mengamalkan politik yang luhur atau berbasis pada kekuatan etika dan moral sehingga dapat menjadi politikus atau pemimpin sejati yang memperjuangkan suara rakyat tanpa dibumbui kepentingan pribadi maupun kelompok. Karena itu dengan etika politik dan bermoral merupakan pemimpin yang menjadi harapan rakyat.

Hal ini tentu akan berpengaruh kepada kepercayaan rakyat, karena jika tidak maka Kepentingan kalangan bawah oleh pemimpin itu hanya dikremasi diatas kertas berbentuk rancangan, tapi tidak teraplikasi secara nyata.

Ketika ketidakpedulian birokrat seperti ini terus menggejala, maka apatisme rakyat terhadap pemimpin semakin mengakar kuat,  Akhirnya kepercayaan atas pemimpin akan meredup sehingga demokratisasi ternoda kembali karena suara rakyat bukan lah suara diatas kekuasaan pejabat, melainkan suara yang mengungguli kedaulatan rakyat.

Itulah wujud kepimpinan dan politikus yang menghargai nilai-nilai kemanusian dengan merealisasikan pepatah demokrasi: dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sebab, meminjam pemikiran Ignas Kleden, ia mengatakan :”kalau demokrasi sebagai sitem politik , maka pemimpin yang demokratis adalah seorang yang berasal dari rakyat (bukan dari kalangan bangsawan), diawasi oleh rakyat (bukan mengawasi dirinya sendiri), dan bekerja untuk rakyat (bukan bekerja buat dirinya sendiri dan kelompok yang dekat dengan dirinya). Ini artinya, segala kebijakan yang ditawarkan pemerintah tidak boleh mencekik rakyat, karena pusat kekuasaan adalah terletak pada kehendak rakyat, bukan pada pundak pejabat.

 771 total views

Facebook Comments