Fakta News
Ultimate magazine theme for WordPress.

Efek Ustadz Somad, Gorontalo Cerah

Oleh : Carles Ishak (Profesional Muda)

Faktanews.com (Opini) – Gorontalo, Dai “Cerdas dan Nyentrik” merupakan predikat yang pantas disematkan bagi penceramah kondang Ustadz Abdul Somad atau yang biasa disapa UAS. Ia Abdul Somad adalah salah satu ulama yang penuh dengan kharismatik. Penceramah yang terbilang sukses ini, hanya dalam waktu yang cukup singkat telah berhasil mencuri perhatian umat Islam. Bukan hanya di Indonesia ia digemari, namun kepopulerannya sudah menggolobal ke berbagai belahan dunia. Tak heran sampai saat ini, Ustadz Abdul Somad sudah menjadi bagian dari referensi keislaman Ummat dimana-mana. Kepiawaian Ustadz Abdul Somad dalam berdakwah, bukan saja kehebatannya dalam mengolah kata kemudian menjadi kalimat-kalimat yang enak didengar. Tapi lebih dikarenakan oleh kemampuannya yang kaya dengan literasi serta referensi. Sehingga ia mampu untuk menjawab segala kegelisahan atas semua ketidaktahuan ummat.

Fenomena religiusitas-sosial semacam ini bukan baru pertama kali. Indonesia pernah memiliki ulama sekaligus Dai yang sangat populer. Ia adalah alm. KH. Zaunudin MZ. atau yang populer disebut Dai Sejuta Ummat. Ada kemiripan antar keduanya. Kemampuan dalam mengolah kata yang kemudian disandingkan dengan penguatan literasi.

Kebutuhan jiwa ummat yang begitu kuat atas ketenangan rohani melalui fondasi agama, makin menguatkan bahwa manusia sejatinya adalah makhluk yang beragama “Homo Religious”. Manusia adalah makhluk sosial yang mempunyai ciri khas yakni tidak mau hidup diatas ketidakpastian. Manusia adalah makhluk yang tidak mampu hidup dalam kekosongan dan kegelisahan. Sehingga manusia adalah makhluk yang diberikan keistimewaan untuk menggali segala potensi kemampuannya dalam rasa, cipta dan karsa.

Dalam memenuhi segala keinginan dan kebutuhannya, manusia terus berupaya mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mencari dan terus menggali atas semua potensi ketidaktahuannya yang didasari oleh kemauan dan keingintahuannya. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dilakukan oleh umat manusia seolah tak kan pernah berhenti dan sulit terhenti. Terus dan terus menggali menggunakan kekuatan akal pengetahuannya.

Di saat manusia terus menguji kekuatan akal pikirannya, demi menemukan jawaban “Sempurna”. Tibalah ia pada satu titik satu masa, yang mana segala kemampuan dan kekuasaanya tak punya arti apa-apa. Kosong, gelisah, cemas, hampa.

Sebagaimana yang tertulis dalam nisan Immanuel Kant, “bahwa ada dua rahasia yang luas terbentang yang menggelitik untuk diselidiki: bintang-bintang di atas kita, dan hati nurani di balik dada kita”.

Dalam buku “Dari Kosmologi ke Dialog”, Karlina Supeli memaparkan bahwa potensi manusia untuk mengenali alam semesta hanya bisa tercapai sejauh 5% yang dapat diamati melalui berbagai panjang gelombang (contohnya adalah bintang, planet, galaksi, gunung-gunung, lautan, bangunan, mahluk hidup termasuk saya dan anda). Sedangkan 95% sisanya hanyalah dark matter, atau energi gelap yang masih berupa hipotesa dan abstraksi-abstraksi.

UAS DAN GORONTALO
Hampir sama di semua daerah, di Gorontalo Ustadz Abdul Somad adalah panutan dan salah satu literatur Islam. Hal ini terbukti baru-baru ini tepatnya Kamis 11 Desember 2018, Gorontalo kedatangan oleh Dai kondang ini. Sontak, gegap gempita penyambutan kedatangannya dengan begitu meriah dan penuh syahdu. Namun tanpa mengurangi dan menghilangkan makna nilai religiusnya. Ribuan ummat Islam Gorontalo tumpah ruah datang mendengarkan isi tausiah UAS. Bukan saja hanya ingin mendengarkan ceramahnya, namun juga ingin mengobati rasa rindu ingin melihat langsung sosok ustadz yang nyentrik nan kharismatik ini. Bahkan bukan saja masyarakat Gorontalo yang ikut hadir, turut hadir pula masyarakat disekitaran daerah Gorontalo.

Dibalik keriuhan dan kenikmatan sosok UAS selama di Gorontalo, ternyata menyimpan keriuhan cerita lain yang tersembunyi tapi berbisik-bisik kecil “The Hidden Story”. Bisik yang bising di antara mereka. Mereka yang ternyata mendapatkan panggung Abdul Somad dan menjadikannya sebagai arena perdebatan kolot, pajangan popularitas semu, serta hiasan narasi-narasi manis dan untaian janji yang memabukkan. Jalan pikiran yang selalu dialiri darah merah bercampur hitam. Begitulah potret mereka, demikianlah mereka para politisi. Eksistensinya tak pernah mengenal ruang dan waktu. Kapan, dimana.

Tidak ada kata salah. Normal saja. Disetiap keadaaan akan meninggalkan berbagai macam cerita dan kisah. Dan bagi sebagian besar masyarakat, kedatangan Ustadz Abdul Somad di Gorontalo sudah memberikan energi positif dan menyejukkan. Ceramahnya yang mendatangkan kekuatan ukhuwah kebersamaan dan mempersatukan. Meleburkan semua elemen yang beda kumpul jadi satu.

“Karena keyakinan menjadikan kita berbeda. Dan karena keyakinanlah kita bersama”
Satu keyakinan bersama “Semua Hampa Selain Kuasa Tanpa Batas, “ (***)

213 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Facebook Comments