Ultimate magazine theme for WordPress.

Antara Phobia Politik dan fitnah Politik

Oleh : Jefri Polinggapo, S. AP

(Profesional Muda)

Faktanews.com (Opini) – Gorontalo, Dalam momentum politik memang tidak diherankan lagi argumentasi – argumentasi aktor politik yang banyak ngibulnya. Karna menurut dia berbohong dan menipu rakyat adalah cara ampuh untuk menang. Orang seperti bisa di bilang Phobia Politik “Ketakutan atau Cemas” Melihat kekuatan lawan politik. Sehingga apa saja akan dilakukan untuk meng counter lawannya.

kelompok oligarki politik saat ini sedang mempertahankan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan. kemunculan Negara tidak bisa dipisahkan dari watak politik manusia “Zoon Politik” sehingga politik etis akan tercipta apabila Aktor politik mampu memberikan pemahaman politik yang sesunggunya dan jauh dari fitnah.

kepada Aktor – aktor Politik di Gorontalo diharapkan dapat menjaga dan merawat nilai – nilai Humanisme dalam perhelatan politik ‘PILEG & PILPRES”, para actor harusnya banyak mempelajari kearifan lokal baik Sosio-Kultur dan Falsafah  orang Gorontalo. dengan begitu Perpolitikan di Gorontalo tetap terjaga nilai – nilai leluhur seperti Mohuyula ( Bahu membahu atau Bergotong royong) dan Lo Iya Lo Ta Uwa, Ta Uwa Loloiya, Bo’odila Poluliya Hilawo ( Pemimpin itu penuh dengan Kewibawaan, Maka tidaklah dirinya Sewenang – wenang). Nilai ini yang diharapkan bisa menjadi Nilai – nilai Politik Etis.

Cara – cara mempengaruhi dan merangkul adalah hal mendasar dalam srategi politik “teori La Politika Aristoteles”. Masyarakat awam pun paham. Ilmu politik juga mengajarkan kita untuk bersama dalam tujuan kebajikan. Srategi Politik merangkul sementara berlaku dinamikanya secara nasional. Kita patut bangga dengan dimanika politik yang tidak memainkan ritme – ritme dan narasi politik kampungan dalam hal ini menfitnah dan menuduh hal yang belum pasti kebenaranya. Jika ada politisi pemula yang memainkan issue seperti ini berarti tidak paham akan nilai – nilai konservatisme ke-Gorontalo-an sebut saya Mohuyula. atau dikarenakan Phobia Politik karena dilihat dari argumentasi yang hanya memprovokasi dan jauh dari kenyataan.

Tradisi Mohuyula kalau di indonesia kan adalah Tradisi Gotong Royong yang menjadi ciri khas kepribadian masyarakat Gorontalo sampai saat ini dirawat dan dipelihara secara turun temurun. Falsafah Huyula ini sementara dipraktekan dengan cara etis oleh sebagian tokoh – tokoh elit Politik Gorontalo. sehingga gerakan huyula ini menjadi Skema Politik yang menakutkan bagi mereka yang kehilangan akan figur. Srategi menjatuhkan mulai dimainkan dengan cara mempropaganda masyarakat Gorontalo dengan issue Mafia Politik.

Issuei Mafia Politik ini sangat berbahaya bagi Pemilih, karna Mafia atau Mafioso itu indentik dengan Perjudian, Penipuan, Perdagangan Narkoba, Pembunuhan, dan Pengelapan Dana, apakah daerah tercinta Gorontalo kenyataanya seperti itu.? saya kira ini tidak sesuai Sosio-Kultur dan falsafah Gorontalo. harapan kedepan bagi kita yang paham agar jangan ada penghianatan kepada nilai – nilai Leluhur dan Guru – Guru Politik yang sudah mahir memaikan srategi politik yang beretika.

Nalar kritis saya menyimpulkan bahwa Mafia Politik bisa saja lahir dari orang – orang yang memainkan narasi – narasi tersebut. Hati – hati ketemu dengan orang – orang yang seperti ini, selalu mengkampanyekan nye Issue – issue Mafia Politik yang sesungguhnya jauh dari realitas Politik di gorontalo. Saya menyakini publik cerdas melihat siapa yang mulai mempropaganda masyarakat dengan fitnah, hoaks, black campaign, dan negative campaign

Politik dan kekuasaan dijalankan oleh actor, jangan sampai actor atau politisi di gorontalo ada sifat – sifat yang kejam dan tanganbesi,  yang sebagaimana dijelaskan dalam buku II Principe Niccolo Maciavelli, biasa hal seperti ini dimainkan oleh kelompok OLIGARKI. (***)

272 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Facebook Comments