Ultimate magazine theme for WordPress.

Relokasi SMA Matlaulanwar, Bupati Malteng Didemo

Faktanews.com (Daerah) – Maluku Tengah, Terkait pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) oleh Pemerintah Kabupaten Maluku Tengaj (Pemkab Malteng) pada kawasan penduduk rawa kampung kodok, yang saat ini ditempati SMA Matlaul Anwar Masohi dan beberapa penduduk. Dan untuk merealisasinya, relokasi SMA Matlaul Anwar menjadi pilihan dari proyek RTH, termasuk beberapa penduduk yang ada disekitarnya.

Menyikapinya, seluruh siswa SMA Matlaul Ananwar Masohi dan alumni serta komponen mahasiswa dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Maluku Tengah, melakukan aksi demonstrasi terhadap Bupati Malteng Tuasikal Abua, SH, sebagai bentuk penolakan relokasi yang dilakukan. Rabu, (21/11/18), pukul 10.35 WIT, ratusan pendemo mendatangi kantor Bupati Malteng, secara bergantian mereka berorasi mengecam tindakan Pemkab Malteng yang merelokasi SMA Matlaul Anwar Masohi.

Para pendemo menilai, kebijakan Bupati Malteng tidak berpihak kepada pendidikan, sebaliknya melantarkan pendidikan. “Kami masi mau belajar, selamatkan kami, jangan kami digusur.. Kalo kami digusur, sediakan lokasi buat kami belajar, bukan digusur baru disediakan lokasi buat kami belajar, ” teriak Ketua Osis La Safrudin, dengan Microfonnya.

Sementara itu alumni SMA Matlaulanwar yang juga pengurus KAMMI Malteng Ahmat Patty, secara tegas mengecam tindakan relokasi yang dilakukan oleh Pemkab Malteng. Sebab dalam surat yang dikeluarkan oleh Eskratris daerah Malteng DR. Rakib Sahubawa, isinya bahwa SMA Matlaul Anwar Masohi di relokasi ke SMA Muhammadiyah Masohi, ternyata setelah dicek kebenqrannya, SMA Muhammadiyah menolak dengan alasan tidak ada ruang kosong.

“Sekda buat surat tidak dikonfirmasi ke sekolah, mau direlokasi kemana, pembangunan RTH mengabaikan pendidikan. Seharusnya sebelum pembangunan berjalan dan relokasi dilakukan, semuanya disiapkan sehingga proses pendidikan berjalan dengan baik, apalagi saat ini sedang menghadapi ujian, ” tegasnya.

Dirinya menilai bahwa, pembangunan daerah yang sementara ini dijalankan, tidak memiliki perencanaan yang baik alias tiba saat tiba akal. Sebab, apa yang menjadi keinginan untuk membangun, itu dilakukan seenak maunya Bupati.

“Pembangunan yang ada ini, konsepsnya tiba saat tiba akal atas usul alias bisikan orang dekat bupati, padahal tidak beres dan merusak Bupati. Kan seharusnya sebelum proyek RTH rawa kampung kodok dilaksanakan, maka perlu dilakukan relokasi dan menyediakan lokasi baru bagi SMA Matlaul Anwar sehingga tidak mamatikan proses pebdidikan. Apa yang terjadi, proyek sudah jalan baru pikirkan relokasi itu juga tidak jelas”, ujarnya.

Setelah puas menyampaikan pendapat, perwakilan para pendemo, baik siswa SMA Matlaul Anwar, perwakilan yayasan dan mahasiswa dipersilahkan menemui dan beraudens dengan Bupati Malteng Tuasikal Abua,SH di ruang tamu Bupati.

Dihadapan pendemo Bupati mengatakan bahwa, semua yg dilakukan pastinya ada solusinya, sebab tidak mungkin pemerintah lakukan tidak ada solusinya bagi kepentingan masyarakat. ” Perlu diketahui yang dilakukan pemerintah dengan membangun RTH, rawa kampung kodok, untuk menyelamatkan semua baik itu pendidikan dan kesehatan. Sebab jika dilihat dari sisi kelayakan pembelajaran maka proses pembelajaran di SMA Matlaul Anwar sudah tidak layak, yang mana situasi lingkungan tidak mengenakan dimana bau busuk dan jika ada air pasang maka ada genangan air, ” tegas Tuasikal.

Untuk tidak menghambat proses pembelajaran maka dalam waktu dekat ini kata Tuasikal, SMA Matlaul Anwar akan direlokasi ke kampus darusalam yang ada di air pepaya negeri haruru. ” Sementara ini proses belajar SMA Matlaul Anwar akan kita relokasi ke Kampus C Darusalam Masohi. Menanti pembangunan yang akan diselesiakan pemerintah kabupaten pada lokasi baru yang ada di dekat Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), baik untuk SMA maupun SMP dan SD Matlaul Anwar. Semuanya akan kita bicarakan dengan baik, tinggal menunggu ada komitmen dengan pihak yayasan untuk dua belapihak, ” terangnya.

Menurutnya, dengan langka yang diambil, maka semua proses pembelajaran tidak akan terganggu, sebab lokasi ruang belajar yang ada di darusalam akan digunakan.

“Awalnya kita mau untuk relokasi ke SMA Muhammadiyah dengan sistem pagi siang, namun karena ada pertimbangan lain untuk tidak terjadi perkelahian sehongga dipindahkan ke kampus darusalam. Dan pemerintah tidak akan melantarkan masadepan peserta didik anak bangsa yang ada di Malteng, ” ujarnya.

Tuasikal berharap, ada komitmen antara Yayasan Matlaul Anwar dengan Pemerintah Kabupaten Malteng, serta ada dukungan dari mahasiswa dan masyarakat untuk bersama-sama membangun Malteng yang lebih baik.

” Harapan saya ada dukungan dari mahasiswa untuk bersama-sama kita membangun Malteng yang lebih baik dan dapat menjadikan Malteng sebagai jendela indonesia timur,” harapnya. (Rus)

58 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Facebook Comments