Faktanews.com (Daerah) – Kabupaten Maluku Tengah, Terkait pemindahan jasad para almarhum dan alamarhuma yang ada di kuburan lama yang ada di belakang Kantor Dinas Pekerjaan Umum (PU) ke kuburan baru yang berada di jalan tran seram Dusun Kampung Baru Negeri Haruru Kecamatan Amahai Kabupaten Maluku Tengah (Malteng).  Membuat masyarakat Maluku Tengah (Malteng),  yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Peduli Pembongkaran Tempat Pemakaman Umum ((TPU)mendemo Bupati mereka Tuasikal Abua, SH.

Kamis,  (29/13/8), pukul 9.30 WIT,  Aliansi yang terdiri dari kader PMII,  LSM Pukat Seram, Pemuda Dan tokoh masyarakat Kelurahan Lesane, menggunakan kendaraan roda dua dan mobol pic up yang dilengkapi pengeras suara, bergerak dari Mesjid Al-Muhajirin Lesane menuju Kantor Bupati Malteng yang terletak di jalan Buano.

Ratusan pendemo, baik anak-anak,  ibu-ibu pemuda dan mahasiswa, membawa spanduk dan panflet, bertuliskan.

“Kami masyarakat Kota Masohi menolak keras rencana pemerintah daerah  memindahkan kuburan lama ke kuburan bari,” tulis mereka dalam spanduk.

Sementara itu tulisan dalam panflet, “Edaran sekda No.  469/169 5Februari 2018 Pemindahan No Hestory Sejarah Yes. Mayat saja masih ditindas, apalagi yang masih hidup,” tegas mereka.

Dalam orasi Ketua LSM Pukat Seram Fahri Asyatri mengatakan bahwa, rencana pembangunan taman kota yang akan dibangun di atas tanah kuburan sehingga harus membongkar untuk memindahkan jasad ke kuburan baru adalah rencana proyek yang tidak preatisius.  Sebaliknya, membuat masyarakat baik yang beragama islam maupun beragama kresten tersinggung.

“Kuburan yang akan digusur,  disana ada jasad para syuhda,  ulama dan tokoh sejarah pembangunan Kota Masohi. Selaian itu, ada keragaman kehidupan disana,  yang mana ada kuburan muslim dan kuburan kresten,  menjadi dalam satu lokasi,  harusnya ini menjadi situs sejarah keragaman kebihnekaan, ” teriak Asyatri melalui mecrofonnya.

Dirinya mempertanykan siapa yang membisik rencana kotor kepada Bupati Tuasikal Abua sehingga kuburan lama harus digusur untuk lokasi pembangunan taman kota. Padahal masih ada lokasi yang cukup luas di Kota ini untuk digunakan,  bukan harus gusur kuburan. “Orang mati saja di gusur,  bagaiamana dengan yang masih hidup.  Silahkan saja gusur  jalan protokol,  perumahan pemda, lalu buat taman kota,  yang dibuat pemda tidak ada gunanya dan bukan prostesius,” tegasnya.

Terkait rencana pembuatan taman, pihaknya perna menyampaikan kepada Bupati agar lokasi kuburan lama untuk dijadikan saja taman religius. Ini dimaksudkan agar,  aderah kuburan lama dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan yang mengubjugi Kota Masohi. “Artinya kuburan lama bisa menjadi situs sejarah keragaman,  sehingga jika dibuat taman religius maka semua orang dari berbagai agama dapat menikmati dan mengetahui bahwa perna ada satu lokasi kuburan untuk semua agama di Masohi, ” ujarnya.

Masyarakat sampai saat ini lanjut Fahri,  belum mengetahui berapa besar dana yang hendak dikucurkan untuk proyek taman kota di atas tanah kuburan.  Selaian itu,  pangakuan salah satu pejabat Pemda Malteng di salah satu media bahwa tidak ada anggaran untuk pemindahan kuburan,  bagaimana bisa.

“Anehnya DPRD Malteng bisa menyetujui penggusuran kuburan untuk pembangunan taman, dimana keberpihakan mereka kepada rakyat.  Untuk itu Pemda gusur saja kantor DPRD lalu dibangun taman kota,  DPRD dipindahkan berkantor ke lantai tiga Masohi plasa yang juga sudah berganti nama menjadi Pasar Binaya,” protes Fahri.

Dirinya meminta agar proyek pergusuran keburuan segerah dibatalkan dan membangun taman di lokasi lain.”Kami minta Bupati untuk segera membatalkan proyek taman yang di lokasi kuburan. Jika tidak maka kita akan berdoa dan melakukan stigosa agar mereka yang terlibat,  berikan masukan kepada Bupati,  yang menggamabr dan yag terlibat sih mua agar Allah SWT memberikan ajab dan mereka mati semua,” ancamnya.

Para pendemo di kawal ketat oleh parat kepolisian, keinginan untuk bertemu dg Bupati atau perwakilan bupati,  tidak dapat terwujud karena Bupati Tuasikal Abua maupun sekda Rakib Sahubawa tidak berada di tempat.

Kemudian massa aksi pun bergerak dan menuju kantor DPRD Maluku Tengah untuk berorasi,  dan Ketua DPRD Ibrahim Rohunussa dan beberapa Anggotanya menerima apa yang menjadi aspirasi dari Massa Aksi.

Pewarta : Yuslan Idris

1,662 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini