(Dari Kiri) Hj. Ketty Mayulu, Hj. Titin Mobiliu, Hj. Ida Syaidah, Prof.Hj. Ani Hasan, Hj. Lola Yunus
(Faktanews) Kota Gorontalo –  Opini, Pemilihan Walikota Gorontalo (PILWAKO) yang dijadwalkan akan berlangsung 2018 mendatang, sudah mulai hangat diperbincangkan. Bahkan para tokoh yang menjadi bakal calon Walikota dan Wakil Walikota saat ini,  sudah mulai mempersiapkan diri, diantaranya ada yang sudah mendaftarkan diri pada proses penjaringan yang dilaksanakan oleh Partai Politik (Parpol) yang berhak mengusung calon pada Perhelatan Pilwako.
Sayangnya,  dari proses penjaringan yang dilakukan oleh beberapa partai, sejauh ini belum ada seorang pun tokoh perempuan yang mendaftarkan diri. Jangankan untuk mendaftar, dalam tataran wacana sekalipun,  tokoh perempuan Gorontalo belum muncul ke permukaan. Hal ini cukup memprihatinkan, terutama di era demokrasi, dimana perjuangan terhadap kesetaraan gender sedang gencar-gencarnya dilakukan, baik secara nasional dan internasional.   
Semenjak Gorontalo menjadi sebuah Provinsi dan sudah beberapa kali melaksanakan perhelatan Pilkada, tampilnya kaum perempuan Gorontalo pada proses Pilkada, memang masih bisa dihitung dengan jari. Demikian juga dengan komposisi keanggotaan DPRD, jumlah kaum perempuan masih jauh dari harapan, yakni masih dibawah dari 30 persen sebagaimana yang diamanatkan dalam ketentuan Undang-Undang Pemilu.
Hal ini sekaligus mengundang pertanyaan, apakah kaum perempuan Gorontalo belum sepenuhnya memiliki kepercayaan diri untuk menjadi pemimpin daerah, ataukah kaum perempuan terlanjur trauma terhadap kegagalan yang pernah dialami oleh kaum perempuan ketika maju sebagai calon Pemimpin daerah,  ataukah ada sisi lain yang menjadi penyebab,  sehingga kaum perempuan Gorontalo seakan tidak berani untuk maju sebagai calon pemimpin daerah.
Pertanyaan ini patut untuk dijawab, sebagai upaya untuk membangkitkan semangat dan rasa percaya diri kaum perempuan Gorontalo untuk berani tampil menjadi pemimpin daerah. Unsur kepercayaan diri sebenarnya tidak menjadi penghalang, karena dalam tataran realitas, banyak kaum perempuan Gorontalo memiliki prestasi yang membanggakan. Demikian juga, kaum perempuan Gorontalo,  tidak perlu merasa trauma terhadap kegagalam tokoh-tokoh perempuan yang pernah maju pada proses Pilkada di masa lalu, semisal Hana Hasanah Fadel Muhammad yang pernah maju, sebagai calon Gubernur periode 2017-2022 lalu namun tidak terpilih,  atau Ibu Reyna Usman yang juga pernah gagal pada pencalonan Bupati Pohuwato periode 2005-2010 lalu.
Dalam konteks Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Gorontalo tahun 2018 mendatang, sudah dapat dipastikan, terdapat beberapa kalangan yang tentu mengharapkan munculnya tokoh-tokoh perempuan yang berani maju sebagai calon Walikota atau calon Wakil Walikota yang nantinya akan menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat Kota Gorontao.
Tokoh-tokoh perempuan yang bisa diperhitungkan misalnya, Prof. Dr. Hj Ani. M. Hasan, M.Pd, beliau adalah Ketua PGRI Provinsi Gorontalo, mantan Ketua Badan Akreditas Nasional (BAN-SM) Provinsi Gorontalo dan mantan Pembantu Rektor III Universitas Negeri Gorontalo. Terdapat juga nama Idah Syahida Rusli Habibie , yang sudah dapat dipastikan memiliki basis masa yang jelas, karena kiprahnya sebagai Ketua TP-PKK Provinsi dan Ketua Kwarda Pramuka Provinsi Gorontalo. Sementara dari politisi terdapat nama-nama seperti Ketua DPC HANURA Kota Gorontalo, Tien Suharti Mobiliu, SE, yang kini dipercaya menjadi Ketua Fraksi Hanura DPRD Kota Gorontalo. Terdapat juga nama Hj. Kety Mayulu yang saat ini menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Gorontalo. Demikian juga dengan sosok politisi perempuan, Lola Mayulu Yunus yang juga memiliki peluang untuk meraih suara dari para pemilih. Tentu masih banyak lagi tokoh-tokoh perempuan, khususnya di Kota Gorontalo yang memiliki kapasitas memimpin Kota Gorontalo pada periode mendatang.
Jika ada tokoh perempuan yang berani maju dan kemudian terpilih sebagai Walikota maupun Wakil Walikota Gorontalo pada Pilwako mendatang, maka ia akan dicatat sejarah sebagai pemimpin perempuan pertama di Kota Gorontalo.
Tidak hanya membuat sejarah baru, tampilnya sosok perempuan pada Pilawako kali ini diharapkan menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat Kota Gorontalo untuk kemajuan daerah ini di masa-masa mendatang. Sebagai sebuah ibukota Provinsi dan sebagai Kota yang tengah membangun, Kota Gorontalo ke depan membutuhkan aspek seni dalam penataan kota. Aspek seni yang identik dengan keindahan dan kelembutan terdapat pada seorang sosok perempuan.  

Dengan statusnya sebagai ibukota, Kota Gorontalo sebenarnya membutuhkan sosok ibu yang memiliki naluri untuk membenahi dan menata kota yang indah, sejuk serta mampu menghadirkan kelembutan dan keramahan dalam segala aspek. Kota Gorontalo yang identik dengan hingar bingar kehidupan yang sarat dengan persaingan yang cukup keras, membutuhkan sosok pemimpin perempuan yang  mampu mengimbanginya dengan kelembutan yang menghadirkan suasana yang sejuk namun berkemajuan.  (Jeff). 

51 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini